BANGKATIMES, Tanjungpandan – Rencana aksi damai beberapa warga RT 09/RW 05 Jalan Pattimura bersama Ormas Antab batal digelar. Jalan tengah mediasi dilakukan untuk mendengar keluhan dan keberatan warga terhadap keberadaan X-Bar. Serangkaian argumentasi yang dikemukakan manajemen X-Bar bisa diterima warga.

Berlangsung pada Senin, 31 Desember 2018, pertemuan mediasi yang dipimpin Kanit Intelkam Polres Belitung AKP Muhammad Ridwan, itu digelar. Pertemuan dalam suasana kekeluargaan ini, dihadiri oleh perwakilan warga RT 09, Kepala Lingkungan, warga RW 05, Ormas Antap, dan Management X-Bar.

Dalam pertemuan yang berlangsung di Rumah Makan Guangzhou, Tanjungpandan itu, warga mendapat kesempatan pertama untuk mengajukan pendapat dan pokok keberatannya. Ketua RW O5 yang mengatasnamakan RT 0o dan melibatkan ormas, menyatakan keberatannya tentang hadirnya restoran merangkap bar, dengan nama X-Bar yang ada di wilayahnya.

“Pokoknya saya mau X-Bar ditutup, karena bisa menimbulkan dampak negatif seperti adanya maksiat, prostitusi,dan lainnya,” kata Ketua RW 05 Tanjungpendam, Radi.

Menyikapi hal tersebut, manajemen X-Bar melalui juru bicaranya Fahrizan Buntuk membantah serangkaian tuduhan yang dilontarkan Radi.

“Kami sama sekali tidak menyediakan ruangan khusus, apalagi melakukan maksiat, mana mungkin orang akan melakukan perbuatan maksiat di dalam tempat terbuka,” ujar Buntuk.

Argumentasi Buntuk, bahkan diperkuat oleh beberapa warga Tanjungpendam sendiri, yang diantaranya adalah Tody, Dody, dan kawan-kawannya. Terlebih, mereka juga sebelumnya sudah melakukan pengecekan langsung ke dalam ruangan X-Bar. Hal ini mereka lakukan, untuk memastikan benar atau tidaknya tudingan warga yang keberatan hadirnya X-Bar.

“Mereka tidak menyediakan kamar atau wanita yang mana kalian anggap tempat maksiat,” kata Dody.

Dia meminta, warga lainnya untuk bersikap adil kepada pihak pengusaha manapun apalagi ini kawasan wisata. “Terlebih selama ini kami warga dengan adanya usaha di sini dengan pendidikan yang tidak memadai apa ada yang mau menerima kami kerja coba kalian pikirkan. Kapan kita warga Kelurahan Tanjungpendam bisa menjadi pemain bukan hanya jadi penonton di daerah kita sendiri,” tegas Dody.

Dengan adanya dukungan dari warga Kelurahan Tanjungpendam, manajemen X-Bar memperkuatnya dengan berbagai dokumen administrasi yang menyatakan kelegalan usaha itu berdiri.

“Secara administrasi perizinan sudah kami lengkapi baik dari NIB, TDUP, Izin Lingkungan dan Izin usaha semua kita sudah memiliki izin dari yg sudah melalui sistem elektronik OSS sesuai Peraturan Pemerintah NO 24 tahun 2018,” kata Buntuk.

Berdasarkan argumentasi di pertemuan mediasi tersebut, akhirnya dicapai kesepakatan bersama dari kedua belah pihak antara ketua RW 005 dan X-Bar. AKP Muhammad Ridwan selaku mediator memutuskan X-Bar diizinkan beroperasi di malam pergantian tahun sesuai dengan ketentuan-ketentuan kesepakatan.

“Sesuai dengan kesepakatan antara kedua belah pihak sehingga memutuskan X-BAR dibuka dengan ketentuan jam tutup sampai dengan 01.30 WIB sampai dengan mereka menyelesaikan pemenuhan komitmen peraturan perizinan,” ujar AKP Muhammad Ridwan.

Pertemuan mediasi berakhir dengan jabat tangan bersama.

Di malam harinya, warga pun bisa merayakan malam pergantian tahun dengan aman dan tenang di X-Bar.

RELEASE

Bagikan.

Tentang Penulis

Komentar Anda