Oleh : AHMADI SOFYAN (Penulis Buku / Pemerhati Sosial)

DARI kehidupan yang sederhana, Mak memberikan teladan bahwa kami anak-anaknya harus bisa memaknai bahwa manfaat suatu barang lebih penting ketimbang sekedar merek dan harga. Apa adanya jauh lebih baik ketimbang pencitraan karena ada apanya.

NASRULLAH, akrab saya panggil Rul. Sahabat saya sejak kecil, teman merantau saat kami nyantri di Pondok Pesantren Modern Al-Barokah Kertosono Nganjuk Jawa Timur. Selanjutnya kami sama-sama merantau 1 tahun di Pare Kediri dan beberapa tahun kuliah di Malang. Selama merantau di Jawa Timur kami selalu bersama, satu kamar, satu kost dan satu kampus. Selesai kuliah, dia melanjutkan perantauan ke Eropa, yaitu Italia dan Yunani. Sedangkan saya lebih memilih menikah dan pulang kampung membawa isteri sebagai oleh-oleh kepada orangtua.

Sekitar 2 minggu lalu, Nasrullah pulang kampung dengan status masih tetap istiqomah membujang setelah 9 tahun hilang dari peredaran. Tepat pada peringatan 40 hari kepergian Mak, kepada saya Nasrullah mengatakan: “Dak de agik aok suara Mak ke marah. Setau ko, cuma Mak ke lah yang berani marah kek ke ne. mun urang laen dak sape lah berani aok. hehehehehe” (Nggak ada lagi suara Mak-mu marah. Sepengetahuan saya hanya Mak kamu yang berani marahin kamu. Kalau orang lain nggak ada satu pun yang berani ya. Hehehehe)

Mendengar kata-kata Nasrullah ini, saya jadi teringat bagaimana Mak sangat sering marah kepada saya, terutama kala ada perilaku saya yang tidak berkenan di hatinya. Tapi itulah Mak, dia adalah sosok yang ikhlas menyayangi anak-anaknya. Ia berikan pendidikan yang bisa jadi tidak semua anak bisa mengerti. Tapi kala tiada, begitu banyak kenangan dan pendidikan yang didapatkan dari kecerewetan seorang Mak.

Bagi saya pribadi, seorang Mak yang cerewet adalah sosok Mak yang peduli, yang memiliki rasa khawatir dan penuh kasih sayang kepada anak-anaknya. Makanya saya termasuk orang yang sebetulnya sangat ceria berhadapan dengan Mak-Mak yang cerewet. Karena disitu saya melihat sisi seorang Mak yang hebat dan tangguh.

Pakaian Bekas yang Membekas

KESEDERHANAAN yang dibalut keceriaan dan semangat tinggi seringkali menciptakan pribadi-pribadi yang tangguh dan terdidik oleh alam, sehingga siap hidup dalam berbagai suasana dan cuaca. Alhamdulillah, saya dilahirkan dari keluarga sederhana, orangtua (Mak dan Bak) yang sederhana dan saudara yang banyak dengan kesederhanaan pula.

Dari kesederhanaan inilah orangtua, terutama Mak, mendidik kami serta memberikan teladan bahwa hidup harus selalu siap dalam berbagai keadaan. Susah tidak menjadi beban, senang tidak berkacak pinggang. Menjadi orang kecil tidak mengengecil dan mengucilkan diri, menjadi orang besar tidak merasa besar karena kebesaran adalah milik Tuhan.

Dari kesederhanaan pula Mak memberikan teladan bahwa kami anak-anaknya harus bisa memaknai bahwa manfaat suatu barang lebih penting ketimbang sekedar merek dan harga. Berangkat dari kehidupan yang sedikit getir, makan seadanya yang penting halal dan kenyang adalah kehidupan kami yang penuh keceriaan. Anak-anak Mak dan Bak yang berjumlah 10 orang (1 meninggal dunia) membuat rumah selalu ramai, penuh tawa canda bahkan pertengkaran ala anak-anak.

Memiliki banyak anak, membuat Mak dan Bak (Bapak) tak hanya harus bekerja keras demi mencukupi kebutuhan hidup dan menyekolahkan anak-anaknya. Oleh karenanya kami dididik untuk pandai mengatur kehidupan untuk hidup.

Ketika kami anak-anak sudah hidup mandiri, seringkali saat pulang kampung menjadi ajang kumpul keluarga yang penuh diisi dengan cerita keceriaan yang mengundang tawa ngakak. Salah satu yang menjadi pembicaraan kami adalah kebiasaan kami yang dibelikan pakaian bekas oleh Mak. Ya, pakaian bekas adalah pakaian kami sehari-hari yang dibelikan oleh Mak dari pedagang keliling kampung yang kami panggil dengan nama “Wak Kamar Utet”.  Kepada sosok pedagang perempuan yang terkenal lucu dan omongannya sering “nyerempet” inilah kami langganan pakaian bekas. Pakaian yang dihargai seribu, dua ribu atau lima ribu rupiah perlembar bahkan kadangkala lebih inilah busana sehari-hari yang kami gunakan.

Tidak ada rasa malu atau gengsi, karena tetangga dan orang-orang di kampung kami juga banyak yang seperti kami. Oleh karenanya ketika isteri saya bertanya: “Apakah dulu hidup kalian miskin banget ya?” kepadanya saya jawab: “Tidak! Karena kami sama sekali tidak merasa miskin. Karena tetangga, sanak family semuanya hidup sama seperti yang kami alami. Jadi tidak bisa dikatakan miskin kalau sama-sama. Miskin itu bisa terlihat kalau ada yang terlalu kaya ditengah orang-orang miskin jelata. Jadi kami semua tetap ceria dalam kekurangan karena banyak yang sama, sehingga tidak terasa miskin dan susah banget kok”.

Membeli pakaian baru biasanya ada 2 moment, yaitu pas bulan Ramadhan atau saat hendak lebaran Idul Fitri dan pakaian untuk sekolah. Lucunya pakaian baru ini dipakai hanya pas hari Idul Fitri, selanjutnya tidak boleh digunakan lagi dan harus disimpan karena akan dipakai lagi pas Idul Adha atau Maulid Nabi Muhammad SAW. Karena perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Kemuja ramainya melebihi lebaran Idul Fitri dan Idul Adha. Nah, setelah itu, barulah pakaian tersebut boleh digunakan sehari-hari atau setidaknya saat pergi ke kota Pangkalpinang. Sedangkan untuk sekolah, jika tidak ada pakaian bekas kakak-kakak, terpaksa Bak dan Mak membeli pakaian baru.

Oya, selain itu kami sangat bahagia sekali ketika datang Paman dari Kota Pangkalpinang, H. Supron Azhari dan keluarganya membawa berkardus-kardus pakaian bekas ke rumah. Pakaian-pakaian itu dibawa ke rumah kami dan dibagikan kepada sanak famili di kampung. Walaupun bekas, tapi pakaian-pakaian itu masih sangat bagus dan bermerek. Tak hanya pakaian bekas, barang-barang bekas yang lain juga sering dibawa ke rumah kami dan itu menjadi hadiah besar bagi kami sekeluarga.

Dari kesederhanaan ini, orangtua memberikan pelajaran penting bagi kami bahwa manfaat sebuah benda jauh lebih penting dari sekedar merek atau harga. Tidak mudah rasanya mendidik 10 orang anak yang memiliki sikap yang sama dan hidup dalam kesederhanaan namun tetap selalu ceria jika tidak dididik dari orangtua yang ikhlas. Oleh karenanya, tidak ada kata yang paling tepat selain penghargaan besar kepada Mak dan Bak serta rasa syukur yang tak terbilang kepada Tuhan Yang Maha Esa karena kami dilahirkan dan dididik dari sosok orangtua yang tidak berpendidikan tinggi, namun sangat mendidik.

***

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh

Lewati rintang untuk aku anakmu

Ibuku sayang masih terus berjalan

Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah

 

Seperti udara kasih yang engkau berikan

Tak mampu ku membalas

Ibu…….. Ibu………

Ingin ku dekap dan menangis di pangkuanmu

Sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu

Lalu do’a-do’a baluri sekujur tubuhku

Dengan apa membalas

Ibu………. Ibu…..

Seperti udara…

Kasih yang engkau berikan

Tak mampu ku membalas

Ibu…. Ibu…

(Iwan Fals : “Ibu”)

TUHAN, tak ada rasa yang patut kami ungkapkan sebagai anak dari kedua orangtua kami selain rasa syukur. Kami dididik dalam kesederhanaan namun selalu ceria dan tumbuh mental-mental yang siap hidup dalam berbagai cuaca.

Mak 20b

Engkau lahirkan kami ke dunia dari rahim seorang Mak yang kuat, kokoh, tangguh dan  penuh rasa tanggungjawab. Berpuluh-puluh kilo kakinya melangkah untuk mengais rezeki mencari nafkah. Tak peduli tapak kaki berdarah dan penuh nanah, namun ia terus melangkah sampai suatu ketika ia tak mampu lagi, kecuali hanya terbaring diatas kasur.

Pasti dan pasti, kami tak kan mampu membalas kecuali dengan do’a dan do’a agar senantiasa dilapangkan dan diterangkan kuburnya, dikumpulkan kami semua dalam sorga-Mu. Amiin ya robbal alamiin…………

Salam Mak!(*)

Bagikan.

Tentang Penulis

Komentar Anda