BANGKATIMES, PANGKALPINANG – Sabtu, 30 September 2018 malam, waktu Maghrib baru saja berlalu. Puluhan anak-anak muda mulai berdatangan ke resto Umah Ubi Atok Kulop di kawasan Citraland Botanical City Pangkalpinang. Bukan sedang ada pesta ulang tahun, bukan pula untuk memesan makanan khas Bangka, Lempah Kuning, tapi malam itu Owner Umah Ubi Atok Kulop yang juga penulis populer di Bangka Belitung, Ahmadi Sopyan membuat acara yakni “Cantik-Cantik jadi Penulis” (Bekisah Asyik Bersama Penulis Perempuan Bangka Belitung).

Bukan Ahmadi Sopyan atau Atok Kulop namanya kalau tidak punya ide dan selalu membuat kegiatan anak-anak muda di Babel. Sosok yang dekat dengan generasi milenial ini sejak dulu dikenal aktif dan rutin membuat berbagai kegiatan untuk generasi milenial.

Siapa penulis-penulis perempuan Bangka Belitung?
Selama ini kita sama sekali tidak mengenal karena memang kurangnya wadah dalam masalah literasi. Padahal menurut Ahmadi Sopyan, cukup banyak anak-anak muda di Bangka Belitung yang memiliki karya.

Malam tadi, dihadirkan empat orang penulis cantik perempuan dalam sebuah diskusi dengan masing-masing membawakan karya buku dan novel mereka yang telah diterbitkan. Ada Dewi Kesuma, perempuan kelahiran 6 Desember 1995 ini telah menerbitkan novel perdananya setebal 209 halaman berjudul “4 Tangga”. Ada juga Lia Shine (Komeliasari), cewek cantik dari Desa Pusuk ini telah menerbitkan beberapa judul buku dan karya sastranya antara lain: Shana, Terpaksa Menikah dan Cinta yang tak Terpatahkan.

Selain itu dihadirkan juga penulis perempuan dari Desa Lampur Bangka Tengah, Desri Susilawani yang menerbitkan buku cerita anak-anak, antara lain: “Anak Kolong” dan Berburu Jejak Akek Antak”.

Yang tak kalah hebat lagi adalah kehadiran Annisa Fitriah Birrahmah atau populer dengan nama pena, Annisa Fi-Bi. Cewek kelahiran 31 Oktober 1997 ini sudah menerbitkan puluhan judul bukunya, antara lain: Pernikahan Terkutuk, Kutemukan Kamu di Peradaban Waktu, Love In, Cinta Tak Pernah Berujung, dan lain-lain.

Keempat penulis cantik ini diminta oleh Ahmadi Sopyan untuk menceritakan kisah dan perjalanan proses mereka berkarya agar dapat memotivasi generasi muda lainnya. Masing-masing mereka pun menceritakan hal-hal yang mereka hadapi, dari mulai proses hadirnya ide, susahnya memulai menulis, menerima nyinyiran, kesibukan dan berbagai tantangan lainnya.

IMG-20181001-WA0019_crop_900x600-01

Acara malam itu semakin meriah penuh dengan canda tawa, apalagi kehadiran komedian populer Bangka Belitung, Munir Aliando, yang diminta oleh Ahmadi Sopyan mendampinginya sebagai host.

“Gara-gara acara ini, ko nek muat buku, ko akan menulis dan berharap karya ko nanti diterbitkan. Karena duluk e ko juga sudah pernah menulis dan masih tersimpan sampai sekarang,” ungkap Munir serius.

Keempat penulis cewek cantik ini disambut antusias oleh para audiens yang mayoritas adalah anak-anak muda. Berbagai pertanyaan dan apresiasi membuat keempat penulis cewek ini pun merasa haru dan bangga. “Alhamdulillah, terima kasih kepada Bang Ahmadi Sopyan, ini kita benar-benar merasa dihargai dan difasilitasi. Ini benar-benar luar biasa,” ungkap keempatnya.

Sedangkan Ahmadi Sopyan mengungkapkan bahwa seharusnya Dinas Pendidikan dan Sekolah-Sekolah memberikan wadah atau ruang kepada mereka-mereka ini untuk tampil. “Yang macem ne seharus e diberikan tempat di dunia pendidikan, jangen cuma kek artis bae,” ungkap Ahmadi Sopyan yang disambut tepuk tangan.

Acara malam itu pun semakin bermakna, karena kehadiran novelis Indonesia yang berasal dari Belitung, Ian Sancin. Penulis novel “Yin Galema” dan “Arai” ini juga mengungkapkan apresiasinya atas terselenggaranya acara tersebut dan memberikan nasehat serta petuah kepada 4 orang penulis cantik.

“Kita sudah terlalu lama tidak memiliki para sastrawan perempuan dari Bangka Belitung. Malam ini Bung Ahmadi Sopyan sungguh luar biasa, bisa membuat acara ini dan masyarakat menjadi tahu bahwa sekarang lahir kembali sastrawan-sastrawan perempuan Indonesia dari Bangka Belitung. Dulu kita memiliki sastrawan bernama Hamidah, sekarang sudah muncul para penerusnya. Untuk keempat penulis ini, teruslah menulis, kalau bisa keluar dari perasaan pribadi dalam menulis. Karena biasanya perempuan menulis seringkali tak bisa lepas dari perasaannya”.

RELEASE

Bagikan.

Tentang Penulis

Komentar Anda