BANGKATIMES, PANGKALPINANG – Siang itu, Jumat, 30 November 2018. Seantero Kota Pangkalpinang, diguyur hujan lebat. Terhitung sejak usai Jumatan, hingga sore menjelang. Suhu udara yang biasa panas, turun beberapa derajat. Dingin, sudah pasti. Bikin tubuh malas bergerak.

Tapi, tidak bagi ratusan anak-anak muda yang sedang berkumpul di lantai 3 Kantor Gubernur Kepulauan Bangka Belitung. Di sana, di saat yang sama, suhu seakan terasa jauh lebih hangat. Bukan karena sumpek, bukan pula oleh mampetnya penyejuk udara. Tapi oleh satu sebab: jiwa-jiwa muda mereka sedang terpantik semangat.

Gerakan Pemuda Islam Indonesia, yang di Bangka Belitung diketuai Gustian Arsyad, menjadi pemicu dibalik semangatnya anak-anak muda generasi milenial, siang itu. Organisasi kepemudaan bernafaskan Islam ini, menghadirkan dialog kebangsaan, bertema “Peran Pemuda Milenial dalam Merawat Kebhinnekaan”. Arah diskusinya menumbuhkan asa, membangkitkan semangat. Bahwa generasi milenial Bangka Belitung, harus terus bertumbuh, kian maju, seiring zaman yang terus melaju.

Yang jadi narasumber, adalah juga kalangan muda. Ada Ketua Umum DPD KNPI Kepulauan Bangka Belitung Muhammad Irham, Ustadz Kurnia, dan pemerhati sosial budaya Bangka Belitung Ahmadi Sopyan. Serta, tentu saja ada Ketua Umum PP GPII Masri Ikoni. Hadir juga berbicara, Asisten II Bupati Bangka Tengah Muhammad Anas, dan Kepala Kesbangpol Pemprov Babel Tarmin.

IMG-20181130-WA0053_crop_900x600-01

Semua narasumber tampil dengan prima. Ibaratnya, materi yang disampaikan jadi ‘asupan bergizi’ untuk anak-anak muda.

Terlebih karena hadirnya Ahmadi Sopyan. Dia dikenal sebagai seorang penulis, pula motivator, dan entrepreneur dengan merintis Umah Ubi Atok Kulop Resto. Belakangan, meski sudah tentu tak sepenuhnya dia bersetuju, sosoknya oleh anak-anak muda dikenali pula sebagai komedian. Sebutan itu, diberikan berkat kepiawaiannya bermain peran dalam video jenaka sarat pesan bermakna, bersama Munir cs.

Ahmadi Sopyan, secara segmentasi, memang masih masuk kategori milenial. Usianya bahkan 3 tahun lebih muda, dari batas awal 1980 yang banyak disepakati para ahli, sebagai patok penanda awal kelahiran generasi milenial. Makanya tak heran, obrolannya nyambung, mudah dipahami, karena ‘stelan frekuensinya’ masih bisa sama, dengan para peserta diskusi.

Dikatakannya, Indonesia negeri kaya raya. Punya emas, punya minyak, punya timah, punya tembaga, punya sawit, punya lada, punya rempah-rempah. “Tapi yang paling mahal dari Indonesia adalah kebhinnekaan,” kata Ahmadi.

Lebih lanjut, pemilik nama sapaan Atok Kulop itu menegaskan kalau generasi milenial adalah generasi yang akan membawa perubahan besar pada negeri ini, baik sosial, ekonomi, maupun politik. Untuk itu, dia meminta anak-anak muda milenial Babel untuk bersiap menyambut masa depan yang terbentang di depan mata.

Karena pada dasarnya milenial adalah generasi yang terbiasa dengan media sosial, Ahmadi juga menyampaikan peran medsos bagi generasi milenial dalam menjaga kebhinnekaan. Caranya, dengan tidak mudah komentar, tidak gampang share dan tidak reaktif dalam mengambil keputusan yang bisa melukai nilai-nilai kebhinnekaan.

Dia juga mengajak milenial untuk tak ikut-ikutan nyinyir ataupun perilaku mem-bully di medsos. Terhadap apa saja, kepada siapa saja, dan dimana saja. Karena, nyinyir itu merusak mental. Memporakporandakan mood.

Belakangan, kepada BANGKATIMES, Ahmadi menambahkan kalau nyinyir membuat orang tak bahagia. “Secara ilmiah, membuat produksi hormon endorphin tubuh terganggu,” ujarnya. Yang belum tahu, endorphin adalah senyawa kimia yang membuat seseorang merasa senang dan untuk kekebalan tubuh. Diproduksi oleh tubuh pada saat kita merasa bahagia.

Terkait dengan kebhinnekaan, Ahmadi menegaskan kalau Bangka Belitung bisa jadi teladan. Misalnya melalui budaya kearifan lokal, seperti tudung saji, thew fu sui, hok lo pan, lempah darat, dan sebagainya. Filosofi berbagai kearifan lokal yang disebutkannya tadi, telah pula disampaikannya melalui video yang kini ngetop dan menjadi viral.

Menariknya, saat sesi tanya jawab, ada pernyataan dari mahasiswi IAIN SAS Babel, Nurul Hudayah, yang begitu terkesan dengan Ahmadi Sopyan.

“Setiap ada dialog anak muda di Babel ini, memang harus ada Bang Ahmadi Sopyan,” ujarnya membuka percakapan. Lalu dia menanyakan, “Bagaimana posisi kaum milenial jika ada dua kubu masing-masing mengaku paling Pancasilais dan paling Bhinneka?”

Menjawab pertanyaan itu, Ahmadi mengatakan jika generasi milenial bingung dengan klaim kubu yang mengaku paling Pancasilais, paling Bhinneka, maka cukup dilihat dari latar belakang yang mengucapkan, serta perilaku keseharian dan kapasitasnya. “Perilaku seseorang harus sejalan dengan apa yang diucapkan dan dikatakan,” imbuh Ahmadi.

Karena yang hadir adalah milenial, acara tak klop kalau tak ditutup dengan sesi selfie maupun wefie dari peserta. Ahmadi pun menyambut ramah permintaan para peserta, untuk wefie dari smartphonenya.

“Biar kami hadir di instagramnya Bang Ahmadi. Mau juga dong Bang, kalau diajak bikin video bareng Abang dan Munir,” kata salah seorang peserta. “Siap bosque,” jawab Ahmadi mengiyakan, dengan menyebut salah satu istilah sapaan akrab di keseharian milenial.

DONNY FAHRUM

Bagikan.

Tentang Penulis

Komentar Anda