BANGKATIMES, JAKARTA – Tak cuma sering menjadi pembicara di forum-forum diskusi tingkat lokal Bangka Belitung. Ahmadi Sopyan juga sering tampil di forum diskusi level nasional. Terbaru, sosok tokoh muda yang sering menyebut dirinya sebagai anak kampung, ini hadir menjadi narasumber bersama Akbar Tandjung, dan beberapa akademisi dari dalam dan luar negeri.

Sesungguhnya, relasi antara Ahmadi Sopyan dan Akbar Tandjung bukanlah hal baru. Keduanya sering bertemu di kegiatan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang dimasuki Ahmadi semasa berkuliah. Bahkan Ahmadi adalah kader yang secara khusus ditempa langsung oleh Akbar Tandjung.

Karenanya, saat dulu mendapat tawaran dari Siti Aminah Amahoru untuk mengedit tulisannya tentang Akbar Tandjung, spontan Ahmadi langsung mengiyakan.

“Karena yang ditulis tentang Bang Akbar, saat ditawari oleh penulisnya untuk menjadi editor buku ini, saya langsung mau dan tak perlu dibayar,” kata Ahmadi, Jumat, 1 Maret 2019.

Kepiawaian Akbar Tandjung menakhodai Partai Golkar di saat-saat sulit, memang menarik seorang Siti Aminah Amahoru. Buku berjudul Komunikasi Politik Akbar Tandjung, Pergolakan Partai Golkar Pasca Reformasi dan Visi Indonesia Sejahtera, pun ditulisnya dalam sebuah karya disertasi yang dibukukan.

Jumat, 1 Maret 2019, bertempat di Aula Perpustakaan Nasional, Jakarta, buku yang dieditori oleh tokoh muda asal Bangka Belitung Ahmadi Sopyan, itu di-launching sekaligus dibedah.

Ahmadi Sopyan, menjadi narasumber di acara diskusi tersebut. Bersamanya, hadir berbicara Dr Sidratahta (Pengamat Politik dari Universitas Kristen Indonesia), Prof Dr Musni Umar (Rektor Universitas Ibnu Khaldun), Prof Dr Yahaya Ibrahim (Pengamat Politik dari Universiti Kebangsaan Malaysia), dan Drs Manimbang Kahariyadi (Sekretaris Jenderal Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam). Tentu saja, ada sang tokoh yang didiskusikan, Akbar Tandjung.

Bedah buku Komunikasi Politik Akbar Tandjung, ini merupakan karya akademis dengan perspektif komunikasi politik dan menjadikan Akbar Tandjung dan kiprahnya di Partai Golkar sebagai fokus penelitian.

Berbagai sudut dikupas. Dengan fokus utama, alasan kenapa Partai Golkar tetap eksis dan bertahan, yang ditinjau dari perspektif institusionalisasi. Kepemimpinan Partai Golkar pada saat itu mampu merespons tantangan dan mengelola kelembagaan partai dengan baik.

Hal tersebut dibuktikan oleh tidak saja tetap eksis dan berperannya Partai Golkar, tetapi juga catatan prestasi elektoralnya. Pada pemilu 1999 yang merupakan pemilu perdana era reformasi, Partai Golkar bahkan masih mampu finish di urutan dua dengan 120 kursi DPR RI. Meski, saat itu banyak pendapat dan prediksi para pengamat yang menyebutkan partai ini akan segera habis.

“Tentu karena peran kepiawaian dari kepemimpinan seorang Bang Akbar. Saat itu orang melihat Partai Golkar adalah Bang Akbar. Dan Bang Akbar adalah Partai Golkar. Bang Akbar adalah model politisi Indonesia sepanjang zaman. Saya mengagumi beliau meski kami berbeda partai dan termasuk berbeda pilihan,” kata Ahmadi, caleg DPR RI Dapil Bangka Belitung dari Partai Gerindra, ini.

Prof Dr Yahaya Ibrahim, Pengamat Politik dari Universiti Kebangsaan Malaysia, mengatakan sosok Akbar Tandjung selevel dengan Mahathir Muhammad, Najib Razak, dan Datuk Anwar Ibrahim, di negaranya.

DONNY FAHRUM

Bagikan.

Tentang Penulis

Komentar Anda