BANGKATIMES, PANGKALPINANG – Simpang siur pemberitaan mahasiswa asal Indonesia yang disebutkan terjebak praktek kerja paksa, masih perlu ditelusuri lebih lanjut kebenaran infonya. Kabar langsung yang didapat BANGKATIMES ketika menghubungi mereka, menyatakan baik-baik saja.

Intan Galuh Amartya, mahasiswi jurusan Informasi Teknologi di Hsing Wu University, Taiwan, mengatakan dia saat ini dalam keadaan baik, lancar studi dan program pemagangan yang dijalaninya. Intan yang berada di kelas IT A bersama teman-temannya menjalani magang di perusahaan baterai yang berlokasi di New Taipei City.

Untuk jadwal magang, tak seperti kabar ‘kerja paksa’ yang dihebohkan di tanah air. Dia magang dua hari dalam seminggu, sisanya untuk kuliah dan libur.

“Senin dan Selasa-nya magang, sehari 10 jam. Lalu Rabu Kamis Jumatnya kuliah. Sabtu Minggu libur,” ujar Intan, ketika dihubungi Kamis, 3 Januari 2018 pagi.

Lebih lanjut dikatakannya,setiap mahasiswa per jurusan ditempatkan di perusahaan yang berbeda yang disesuaikan dengan jurusan yang ditempuh. Dia yang berangkat ke Taiwan di tahun 2018, bersama mahasiswa asal Bangka Belitung lainnya, terbagi dalam lima jurusan. Pariwisata, Informasi Teknologi, Marketing, Informasi Komunikasi, dan Informasi manajemen.

“Saya ada di kelas IT A, magangnya di perusahaan baterai. Tapi untuk kelas IT B, magangnya gabung sama anak Pariwisata di perusahaan roti, karena belum menemukan perusahaan yang cocok. Kalau jurusan Marketing, magangnya di Shopee Taiwan,” ujar Intan.

Ketika ditanyakan masalah gaji, dia mengatakan besaran gaji berbeda juga. Tergantung dari tepat waktu tidaknya masuk kerja, absensi, dan lain-lain.

“Tahun 2018, satu jam magang dibayar 140 NTD. Dalam sehari kerja dalam 10 jam. Tapi untuk 2019 kabarnya naik menjadi 150 NTD per jam,” tuturnya.

Adapun untuk soal makanan, sebagai orang yang berada di negara yang mayoritas non muslim, memang harus lebih berhati-hati. “Untuk makanan di tempat magang, kita bawa bekal masing-masing dari apartemen. Tapi kalau ada yg lagi malas masak, boleh pesan makanan melalui HRD perusahaan, ada yang halal,” tuturnya.

Terpisah, Yuda Ramadhoni, mahasiswa Hsing Wu University asal Babel yang juga menempuh program magang juga mwnyatakan dirinya dan kawan-kawan baik. “Isu yang mengatakan mahasiswa Babel di Taiwan terlantar, itu tidak benar,” ujarnya.

DONNY FAHRUM

Bagikan.

Tentang Penulis

Komentar Anda