Oleh: AHMADI SOFYAN (Penulis Buku / Pemerhati Sosial)

Pergi ke Kuala melempar abon
Akibat ngidam si isteri bunting
Pancasila bukan sekedar jargon
Pengamalan isinya lebih penting

——————————————————

PANCASILA bukan barang baru, jadi seharusnya sudah mendarah daging dalam setiap tubuh dan otak manusia Indonesia sehingga terwujud dari perilaku bangsa, terutama untuk aparat dan penguasa. Walaupun bukan ajaran agama, tapi Pancasila mengandung ajaran yang semuanya adalah positif untuk kelangsungan dan keragaman sebuah bangsa bernama Indonesia.

Burung Garuda sebagai lambang Pancasila bukanlah burung prit bukan pula burung perkutut. Lima Sila dalam Pancasila bukan juga nomor buntut. Bagi bangsa Indonesia, sesungguhnya Pancasila ini adalah harta warisan yang paling berharga dan wajib kita jaga dan kita amalkan ajarannya sebagai bangsa Indonesia karena seluruh sila dalam Pancasila tidak melanggar ajaran agama. Sedangkan agama itu sendiri bukanlah warisan, tapi keyakinan yang tidak bisa diwariskan.

Ketika 1 Juni ramai digaungkan dan jadi tagline dimana-mana, “Saya Indonesia, Saya Pancasila” sangatlah kurang tepat dari tatanan bahasa dan etika sebagai manusia Indonesia yang Pancasilais. Kalau mau lebih tepat dan terlihat Pancasila kalimat itu seharusnya “Kita Indonesia, Kita Pancasila”. Nah… jadi mana yang lebih mengamalkan Pancasila? Untuk tahu, sederhana saja, cukup diketahui dari ucapan dan pengaturan tata bahasa yang dijargonkan.

****

Pancasila itu beragama bukan bernista ria. Orang yang mengaku Pancasilais, pasti memiliki Tuhan yang tentunya ia wajib tahu membedakan mana yang hak dan yang bathil, dosa dan pahala, hitam dan putih, boleh dan tidak boleh, memiliki rasa takut akan dosa dan ancaman akhirat. Agama adalah benteng utama bagi setiap pemeluknya dan seluruh agama di Indonesia ini tidak ada yang menyuruh untuk berbuat kerusakan, mengintimidasi dan menebar fitnah dan kezholiman, apalagi ia adalah aparat dan penguasa.

So, kalau ada yang beragama, namun bertindak seperti orang yang tak beragama, lalu mengaku Pancasilais, itu namanya bukan pengamal Pancasila, tapi preman Pancasila.

Pancasila itu beradab bukan berperilaku biadab. Seseorang yang mengaku Pancasilais memiliki adab, baik adab secara individu sebagai manusia, adab bertetangga, adab berorganisasi, adab beragama, adab berinstansi, adab terhadap alam, adab bermedia sosial, adab terhadap binatang, adab memprotes/demonstrasi, adab terhadap seluruh kehidupan sesama makhluk hidup tanpa memandang warna kulit, bahasa, busana, suku dan agama.

Kalau ada yang tak beradab, menzholimi dan menebar fitnah, berdiri diatas kekuasaan namun menistakan banyak orang, lantas mengaku paling Pancasilais, itu namanya bukan pengamal Pancasila, tapi preman Pancasila.

Pancasila itu bersatu padu bukan saling mengadu. Menyatukan persamaan guna mengecilkan perbedaan. Menyatukan pihak yang berseteru bukan justru memperbesar perseteruan. Bersinergi untuk menciptakan keharmonisan demi pembangunan negeri, bukan membuat gejolak yang tak pernah berhenti. Pancasila itu bersatu padu saling membahu untuk kemajuan bangsa, bukan saling merobohkan bangunan yang kian rapuh bernama Indonesia.

Persatuan Indonesia itu adalah saling asah, asih dan asuh, bukan saling gasak gesek dan gosok. Kalau kenyataannya saling menyerang, saling menuduh, saling mengadu, saling menzholimi, saling menggasak, saling mencibir, saling menghina, saling mensita, saling membubarkan, saling membantai, lantas mengaku Pancasilais, itu namanya bukan pengamal Pancasila, tapi penista alias preman Pancasila. “Saya Indonesia, Saya Pancasila” dimana letak bersatunya kalimat tersebut? Kalimat itu lebih menuding antara “gue dan elo” dan tentunya ini jauh dari ajaran Pancasila. Bukankah seharusnya “Kita Indonesia, kita Pancasila” jauh lebih Pancasilais?

Pancasila itu musyawarah mufakat bukan menebar perilaku jahat. Menebar kedamaian dalam setiap menghadapi persoalan. Menebar keharmonisan ditengah perbedaan. Tak ada yang pernah sama dalam kehidupan, karena itu adalah kekayaan. Tidak ada persoalan apapun yang tidak bisa diselesaikan. Pancasila mengajarkan untuk bermusyawarah mencari persamaan bukan memperbesar perbedaan.

Pancasila mendidik manusia Indonesia menggunakan otak bukan otot, memakai argument bukan sentimen, mengajak bukannya mengejek. So, jika ada yang mengaku Pancasilais, lantas mengejek, menggunakan otot, menghindari duduk bersama untuk musyawarah mufakat, itu bukan manusia Indonesia pengamal Pancasila, tapi preman pancasila.

Pancasila itu adil bukan main bedil dan bersikap kerdil. Keadilan adalah milik dan wajib didapatkan oleh seluruh warga negara Indonesia. Adil dalam memutuskan perkara, adil dalam membuat kebijakan, adil dalam berbagi, adil dalam mengelola kekayaan alam, adil dalam menyikapi persoalan, adil dalam memimpin, adil kala menjadi atasan, adil saat menjadi bawahan, adil dalam menggunakan, memaknai dan mengaplikasikan kata-kata yang saat ini “heboh” seperti demokrasi, toleransi, intoleransi, radikal, terorisme persekusi, intimidasi, bhinneka tunggal ika, bahkan Pancasila itu sendiri. Jangan maknai keadilan untuk kesenangan dan kepuasan diri sendiri, kelompok sendiri, agama sendiri, instansi sendiri, bahkan memaknai keadilan dari titipan kekuasaan dan uang. Itu namanya bukan pengamal Pancasila tapi preman Pancasila.

Nah, Pancasila itu besar, jangan dibuat kecil karena ulah segelintir kurcaci yang sedang galau dan frustasi. Mari ber-Pancasila yang benar bukan menebar fitnah, kebencian, penistaan, penzholiman lantas mengaku paling Pancasila, padahal baru menjadi “mualaf Pancasila” namun mengaku paling Pancasilais.

Pancasila itu bukan sekedar kata atau judul dalam tulisan dan gambar yang disebarkan, tapi ia adalah ajaran kehidupan khusus manusia Indonesia agar menyatu dalam perbedaan (Bhinneka Tunggal Ika). So, jangan gagal paham soal Pancasila dan pengamalannya. “Kita Indonesia, Kita Pancasila!”
Salam Pancasila! (*)

Ahmadi1

Bagikan.

Tentang Penulis

Komentar Anda