TAK seorang pun manusia di dunia ini yang tidak mendapatkan cobaan atau musibah. Senang atau tidak senang, menerima atau menolak, cobaan adalah takdir dari Allah Yang Maha Kuasa yang tidak pernah lepas pada diri seseorang Hamba, dan pasti terjadi ketika Allah sudah menghendakinya.

Bukankah Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam dan para Sahabat adalah kekasihnya Allah? Namun demikian, apakah mereka luput dari takdir cobaan tersebut? Jawabnya tidak. Mereka pun termasuk HambaNya yang pernah dan pasti akan selalu mendapatkan cobaan dari Allah.

Rasulullah dan para Sahabatnya dulu, pernah mendapatkan cobaan berupa kalah perang, embargo ekonomi dan penyiksaan oleh para Kafir Quraisy sebelum melakukan hijrah dari Kota Mekah ke Kota Madinah. Ini adalah sebuah realita, bahwa Allah tidak pandang bulu dalam menimpakan suatu cobaan, termasuk kepada para Nabi sekalipun.

Yang harus kita pahami adalah, cobaan yang Allah berikan kepada hambaNya yang beriman merupakan bentuk cinta dan kasih sayangnya Allah, dan Allah pasti sudah merencanakan sesuatu yang terbaik untuk HambaNya yang mana rencananya Allah tersebut penuh misteri dan diluar batas akal berpikir manusia yang sering disebut dengan “hikmah”.

Harus dipahami pula, bahwa dengan mengeluh, sakit hati, dan menyesali sesuatu yang telah terjadi, tidak akan pernah bisa melepaskan diri kita dari takdirnya Allah. Justru sikap ini akan melemahkan diri sendiri, yang berakibat lemah pula dalam pengabdian, perjuangan dan ibadah kepadaNya.

Maka dengan kesabaran dan ketabahan, ikhlas dan ridho terhadap apapun yang terjadi, Allah pasti akan memberikan sesuatu yang kita senangi dan kita harapkan serta pasti kita dapatkan, yaitu pengampunan dan kemuliaan. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan dipenuhi pahala mereka dengan tanpa hitungan”. Dan dalam Hadist Tirmidzi diterangkan, “sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung besarnya cobaan, dan sesungguhnya ketika Allah mencintai suatu kaum, maka Allah memberikan cobaan. Maka barangsiapa yang ridho, maka baginya ridho Allah dan barang siapa yang marah, maka baginya murka Allah”.

Selain itu, dalam riwayat Hadist Muslim menerangkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “perkara orang iman itu mengherankan. Sesungguhnya semua perkaranya itu baik, dan tiada yang demikian itu bagi seseorang kecuali untuk orang iman jika menimpa padanya suatu kebaikan atau kemudahan, Ia bersyukur, maka kesyukuran itu baik (bermanfaat) untuknya. Dan jika tertimpa bahaya atau kemelaratan, ia sabar, maka kesabaran itu baik (bermanfaat) untuknya”.

Lalu di Hadist Bukhari diterangkan, dari Abu Hurairah Radhiallahu anhu, dari Nabi SAW beliau bersabda, “tidak menimpa kepada orang Islam suatu kepayahan sakit, tidak pula kesusahan dan kepedihan, tersakiti, teraniaya, dan penderitaan hingga duri yang mengenainya, kecuali sebab semuanya itu Allah menghapus dosa-dosanya”.

Oleh karena itu, kita yang diberikan cobaan, baik buruknya cobaan tersebut, supaya bisa bersabar, menerima takdir dari Allah dengan lapang dada. Mengeluh bukanlah solusi terbaik, melainkan akan membuat frustasi dan menambah permasalahan yang ada. Karena sesungguhnya orang yang mengeluh adalah orang-orang yang kalah, kalah melawan hawa nafsunya sehingga membuat dirinya tidak bisa bersabar atas cobaan dari Allah SWT.

fakih

Penulis: Abdul Fakih
(Alumni Pondok Pesantren Wali Barokah/Anggota Komunitas Aksara Muda Babel)

Bagikan.

Tentang Penulis

Komentar Anda