Oleh: AHMADI SOFYAN (Penulis Buku / Pemerhati Sosial)

Ojek kendaraan ojek dipakai
Otak resah urusan tak beres
Jelek pikiran jelek perangai
Alamat susah untuk sukses

MEMINJAM istilah yang diungkapkan salah satu tokoh Negeri Serumpun Sebalai, H. Emron Pangkapi, “Restorasi Perangai” menjadi hal yang sangat penting dalam meningkatkan kualitas masyarakat Bangka Belitung, terkhusus masyarakat Kota Pangkalpinang sebagai Ibukota Negeri Serumpun Sebalai (Bangka Belitung).

Di negeri ini, patut kita sadari betapa sulit memuji orang lain, tapi begitu gampang mencari kelemahan bahkan mencela seseorang yang berbeda. Ada juga jenis perilaku yang hobi memberikan pujian di depan, tapi mengkritik dan mencela serta nyinyir” di belakang. Di sisi lain, perilaku SMS (Senang Melihat orang Susah dan Susah Melihat orang Senang), haruslah disingkirkan jauh-jauh dari kepribadian masyarakat kita, terutama orang-orang yang ditokohkan maupun yang menokohkan diri.

Karena tak dipungkiri bahwa di antara kita, bahkan jangan-jangan kita sendiri, sangat bahagia melihat kawan seiring kala jatuh atau sengsara, tak rela orang lain menanjak, tak mau menjadi penopang kemajuan sahabat, kerap menjatuhkan, saling gasak, gesek dan gosok, bukan saling asah, asih dan asuh. Kalau diajak bergabung tak memberikan kontribusi positif, tak dilibatkan ia mencari kelemahan dan kekurangan. Ada lagi jenis manusia yang hobi memutar kaset kusut zaman bahula dengan menyalahkan semua orang akibat kegagalan mencapai keinginan pribadi. Sekali lagi terjadi pada orang-orang yang sudah menjadi tokoh bahkan memiliki titel berderet. Hal seperti ini sungguh tak mendidik generasi muda dan “perangai” seperti ini sangat gampang menular jika terus diberikan kesempatan untuk ditebarkan.

Dari sini kita bisa menilai, bahwa kedewasaan dan sikap bijaksana ternyata bukan diukur dari tua umur, bukan pula dari deretan titel didepan dan dibelakang nama yang dibanggakan. Kedewasaan dan kebijkasanaan dapat kita nilai dari diri seseorang bukan disaat ia bahagia, bukan pula disaat ia berada di puncak kesuksesan, tapi dapat dinilai saat ia berada dalam kesusahan dan jatuh, dari hero menjadi zero. Oleh karenanya, kerapkali saya ungkapkan dalam berbagai tulisan dan diskusi, bahwa dalam hidup ini sesekali kita harus kembali kepada titik nol, yakni tidak menjadi apa-apa kecuali sekedar menjalani kehidupan apa adanya untuk belajar dewasa dan bijaksana. Karena ketika dalam masa kejayaan, kita seringkali lupa daratan, bersikap jumawa, berperilaku kekanak-kanakkan dan jauh dari sikap dewasa.

Kualitas SDM Membangun Negeri
MEMASUKI usia 17 tahun Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, jika diibaratkan remaja atau gadis, maka dalam usia seperti ini sedang “genit-genit”-nya, sedang susah diatur dan berusaha mencari jati diri, mudah tergiur cepat terpesona, gampang “kaget” dan mudah “terpeleset”.

Oleh karenanya, restorasi “perangai” bukanlah sekedar ungkapan tanpa makna, namun ia mengandung banyak hal untuk perkembangan kemajuan negeri hari ini dan di masa yang akan datang. Kekayaan alam Bangka Belitung bukanlah satu-satunya penopang kemajuan negeri, namun lebih dari itu, inovasi dan kreativitas dari Sumber Daya Manusia-nya adalah hal yang jauh lebih penting. Karena kemajuan sebuah daerah bahkan Negara bukan dari kekayaan alamnya, namun lebih dari itu, yaitu inovasi dan kreativitas dari SDM-nya.

Karena dunia sedang dalam perubahan yang sangat cepat. Berhenti akan terinjak, mundur kecebur dan tidak ada pilihan kecuali berkreasi dan berinovasi. Kita akan menghadapi berbagai pergeseran dalam cara berkerja, belajar dan mengajar, berproduksi, berbelanja, menjual, mengelola usaha, mengelola pemerintahan, melayani publik dan pergeseran-pergeseran lainnya. Di antara ciri pergeseran itu adalah meluas dan meningkatnya pemanfaatan Information and Communication Technology (ICT).

Kemajuan ICT telah dan akan sangat membuka serta mendalamkan horizon baru dari makna kata-kata: efesiensi, efektivitas, knowledge, inovasi, kreativitas, jarak dan waktu, yang semuanya akan membawa kita ke dalam suatu era kompetisi baru “the digital lifestyle” dalam suasana “the knowledge based economy” yang belum pernah dialami dunia sebelumnya.

Oleh karenanya, hasil studi Bank Dunia (Word Bank) pada tahun 2003 pada 150 negara, menunjukkan bahwa ada 4 faktor penentu kemajuan suatu Negara dengan bobot peranannya, yaitu:
1. Innovation and Creativity (45 %)
2. Networking (25 %)
3. Technology (20 %)
4. Natural Resources (10 %)

Ternyata, 3 faktor dengan bobot 90% menempatkan SDM menjadi faktor determinan yang sangat strategis. Ini berarti bahwa kedepan, tuntutan dan kebutuhan utama adalah mengembangkan SDM yang berkemampuan mengembangkan inovasi dan kreativitas, kemampuan dalam membangun jaringan kerjasama, kreatif dan inovatif mengembangkan dan mendayagunakan teknologi, sekaligus mampu mengelola dan mengembangkan potensi sumber daya alam yang dimiliki.

Oleh karenanya, restorasi “perangai” untuk merubah pola pikir dan perilaku masyarakat kita bukanlah perkara gampang, namun bukan berarti kita tidak bisa. Dimulai dari diri sendiri dan pemimpin yang memberikan teladan dengan memiliki inovasi nyata dalam kepemimpinan. Masyarakat harus dididik cerdas dalam memilih pemimpin, yakni memilih pemimpin yang memiliki inovasi dan visi misi yang membangun, bukan memilih mereka yang mengumbar “syahwat politik” semata.

Menggalakkan pendidikan dengan teknologi dan penguatan karakter bagi generasi muda adalah hal yang tidak boleh ditunda lagi. Generasi muda Bangka Belitung harus diciptakan sebagai generasi yang berkualitas dengan kreativitas yang tinggi dan inovasi yang tak boleh mati. Tentunya ini harus ditopang dengan generasi tua dan para pemimpin daerah yang bersinergi guna menciptakan keharmonisan dalam memberikan teladan bagi generasi muda.

Berhentilah mencari kesalahan masa lalu, mengorek luka lama dan mencari “bisul” di tubuh orang lain. Marilah kita mulai belajar melayani dan menjadikan orang lain sebagai jembatan kebaikan bersama. Tidaklah begitu penting apa dan dimana posisi, tapi apa yang bisa kita lakukan saat ini sehingga bisa bermanfaat bagi banyak orang (negeri). Jadilah manusia yang berarti, setidaknya bagi generasi muda yang pernah mengenal diri kita agar kelak menjadi cerita teladan kala hayat meninggalkan badan.

Janganlah sampai terjadi apa yang disindir oleh orangtua di kampong: “Ade kepala dak ngigit ade kitok dak ngelilit”. Artinya, jika menjadi pemimpin tak berguna sama sekali dan kala menjadi bawahan juga tak bermanfaat bahkan menjadi beban. Pepatah Arab menyebutkan: “wujuduhu ka adamihi” (keberadaannya seperti ketiadaannya) alias “timun bengkok” yang adanya tidak menggenapkan dan ketiadaannya juga tidak mengganjilkan alias tidak masuk hitungan.

Dari sini, kita harus memahami bahwa ternyata “perangai” (pikiran, tingkah laku dan kebiasaan) memiliki tempat terpenting dalam pembangunan sebuah negeri!.

Salam Perangai!(*)

ahmadilebaran

Bagikan.

Tentang Penulis

Komentar Anda