DAHI rasanya tak perlu mengernyit, untuk memahami istilah Atok. Dengan mudahnya, pikiran kita langsung merujuk kepada sosok tua, rambut memutih dengan uban, kulit keriput termakan usia, ataupun berjalan tertatih dengan tongkat di tangan. Dalam konteks lain, sosok Atok merujuk pula pada segala sesuatu yang serba kuno, usang. Pokoknya, semua yang serba jadul dan tradisional, melekat pada sosok Atok.

Namun seiring dengan perjalanan waktu, sapaan kakek dalam masyarakat Melayu itu, kini tak lagi mutlak dimonopoli sepenuhnya para orang tua yang sebenar-benarnya tua. Terjadi semacam fenomena demokratisasi panggilan Atok. Siapapun, berhak dan boleh mengklaim dirinya sebagai Atok. Sah-sah saja. Anak-anak muda di Bangka, banyak yang bangga dengan nickname yang disandangnya sebagai Atok. Banyak, terutama di dunia maya. Sesuatu yang berlawanan dengan masa sekitar belasan tahun sebelumnya. Ketika, anak-anak muda ketika disapa Atok, akan protes karena semacam direndahkan ataupun sedang di-bully oleh lingkungan pergaulannya. Pandangan dunia memang berubah, ter-disrupsi. Dari tadinya memalukan, menjadi identitas kebanggaan.

Dari sekian banyak Atok di dunia maya, ada beberapa nama Atok yang ngetop. Kita mengenal nama seperti Atok Kulop sebagai sapaan penulis muda Ahmadi Sofyan, dan ada juga Atok Usang yang menjadi nama lain dari sejarahwan Bangka, Ali Usman. Mereka asli dan nyata, orangnya maupun aktifitasnya. Belakangan, muncullah Atok Kulai, Atok Waw, ataupun sapaan yang mirip Atok yakni Akek Antak. Dari kalangan perempuan ada Nek Kulop, entah punya siapa.

Walaupun belum terkonfirmasi secara jelas, namun laman Cool Things BANGKAtimes meyakini kalau penggunaan sapaan Atok pada diri seseorang yang belum benar-benar tua, sepertinya untuk memberi identitas pada dirinya sebagai penggambaran perilaku laiknya Atok. Menjadi Atok yang kebanyakan orang kenal sebagai sosok pemurah. Yakni, penyayang cucu, dengan sebisanya mengamini apapun keinginan sang cucu untuk dipenuhi. Atok senantiasa memberi, mengiyakan. Ada semacam cool factor dalam diri Atok.

coolfactor

Atok Usang mengejawantahkan spirit ke-Atok-annya, melalui berbagai aktifitas menelusuri tempat-tempat bersejarah di Bangka. Dengan diperkaya basis keilmuan kesejarahan yang dimiliki Ali Usman, ‘apapun yang serba sejarah’ dibaginya melalui akun facebook Atok Usang dan website yang dia kelola, laalom.com. Pertanyaan apapun tentang sejarah Bangka, sebisanya akan dia jawab secara ilmiah.

Publik pun masih mengingat, usaha sang ‘Atok’ untuk mempertahankan temuan terbaru prasasti di Kota Kapur untuk tetap berada di Bangka. Melalui kegigihannya, prasasti itu pun tak jadi dibawa ke Balai Arkeologi, Jambi.

Adapun Atok Kulop, melalui Gerakan Jumat Sedekah, aktif mengajak orang-orang untuk rajin bersedekah. Di kegiatan GJS yang diinisiasinya itu, tiap pekan rutin mendistribusikan lima ratus nasi kotak sumbangan dermawan ke pihak-pihak yang membutuhkan. Atok satu ini punya petuah ‘sedekah tak harus menunggu harta berlimpah’. Pokoknya, giving is cool.

Selain itu, Atok Kulop juga rutin membagikan kata-kata unik nan lucu tentang keseharian masyarakat Bangka, terutama dikaitkan dengan kebiasaan minum kopi dan makan lempah kuning. Kata-kata bernas, tertera di sana.

Belajar dari semangat totalitas Atok Usang dan Atok Kulop dalam berperan sebagai Atok, ternyata memang tak cuma bermodal tutur kata halus dan petuah-petuah bijak khas tetua negeri Melayu. Tapi, sekaligus juga lebih memberi manfaat kehadiran bagi masyarakat sekitar. Dan yang penting juga, orangnya mesti berani keluar, unjuk diri sebagai si mpunya nama.

Bla sudah begitu, bagaimana dengan Anda, tertarik juga untuk lebih dini menjadi Atok? Bila iya, moga nggak cuma label ataupun stempelnya saja.
Salam BANGKAtimes! Your news, your time, your way……

DONNY FAHRUM

Bagikan.

Tentang Penulis

Komentar Anda