Oleh: AHMADI SOFYAN (Penulis Buku / Pemerhati Sosial)

Ketika sahabat terbaikmu meminta pertolongan dan kau tak mampu lagi menolong dan hanya terdiam? Ketika sahabat terbaikmu mempertaruhkan nyawa dan kau tak mampu berbuat apa-apa? Ketika sahabat baikmu melambaikan tangan terakhirnya…..? Bagaimana air mata tidak menetes? Berteriak keras atau terdiam kaku?

SETIAP orang akan meninggalkan kenangan di mata para sahabatnya, baik dan buruk, suka dan duka, sedih dan gembira serta yang paling mengesankan adalah detik-detik terakhir dalam kebersamaan, bahkan detik-detik terakhir berupa lambaian tangan…..

7 Januari 2018 adalah hari yang tak mungkin aku lupakan dari sebuah persahabatan karib. Begitupula dengan kawan-kawan seperti Donny Fahroem, Nico Alpiandy, Fathurrahman (Boy), Tommy, Egie, Syafri dan lain-lain. Hari itu, diawali kebersamaan, kebahagiaan, keakraban, tawa canda, senda gurau khas Bangka dan berakhir dengan kesedihan, pilu yang menyayat hati, teriakan nama, derai air mata dan kelelahan yang luar biasa.

Di antara kawan-kawan itu, saya dan Donny Fahroem adalah saksi mata yang mengawali kesedihan mendera, menyaksikan langsung hilangnya seorang sahabat karib karena tenggelam di sebuah kolong bekas penambangan timah kala kami bersama-sama menyeburkan diri menikmati air kolong yang bening. Kegembiraan yang mendera berubah drastis menjadi kesedihan yang tak terkira. Cuaca yang terik berubah mendung, yang tak lama kemudian kembali panas terik namun rintik-rintik hujan pun turun. Sebuah pertanda alam yang menakutkan kala ditengah upaya pencarian sang sahabat yang beberapa menit sebelumnya hilang dari pandangan.

Lambaian tangan itu…, ya lambaian tangan seorang sahabat baik, H. Agus Syarif (39 tahun) membuat saya terhenyak dari tidur karena selalu terbayang. Badan yang lelah membutuhkan istirahat, namun kala mata hendak terpejam, lambaian tangan itu datang kembali yang membuat pikiran semakin sedih dan meneteskan air mata tanpa terasa.

Lambaian tangan itu, ternyata sebuah pertanda persahabatan hingga akhir hayat. Canda tawa sambil menikmati nasi bungkus sebelum tragedi terjadi, ternyata adalah kebersamaan makan siang yang terakhir antara kita. Lambaian tangan itu, pernah terdokumentasi oleh kamera beberapa minggu sebelumnya, yakni kala kami berdua diduetkan menjadi MC dalam acara JOBB (Jazz On the Bridge-Bangka) yang berlangsung di Jembatan EMAS.

Pekerja Keras, Pandai Bergaul
MENGENAL sosok H. Agus Syarif adalah kebahagiaan dan keceriaan. Hampir semua orang yang dekat dengan sosok ini bercerita pastinya bercerita tentang keceriaan dan kekonyolan karena kejenakaan khas orang Bangka.

Sosoknya yang sangat dekat dengan semua orang, tanpa memandang suku, agama dan pangkat. Pergaulannya yang luas membuat ia sangat dikenal akrab berbagai kalangan dan memiliki banyak kawan. Terbukti, sejak jenazahnya dibawa ke RSUD Depati Hamzah, di rumah duka, disholatkan di Masjid, lantas dibawa ke pemakaman, ratusan orang dari berbagai kalangan hadir dengan wajah penuh duka.

Agus Syarif adalah sosok pekerja keras yang penuh totalitas. Pemain drama dalam teater yang mumpuni, penyiar radio Sonora yang suaranya selalu menyapa pendengar, wartawan yang aktif, MC kondang dengan berbagai gaya kekonyolannya, pengurus berbagai organisasi dan Masjid, ayah yang sangat bertangungjawab terhadap anak-anaknya. Dari sosoknya, saya banyak belajar tentang nilai-nilai kebaikan dan kebersamaan bahkan kesabaran dalam menata pergaulan.

Ya, sosok Agus adalah sahabat baik yang memberikan pelajaran tanpa dengan ceramah dan pidato berapi-api. Ia memberikan keteladanan yang halus, nasehat yang tak banyak dengan kata, kalimat yang ia ucapkan seringkali menimbulkan tawa, tak pernah tersinggung kala kami setiap berjumpa saling mengolok. Karena itulah ciri khas kami dalam persahabatan, yakni setiap berjumpa selalu mengawali dengan senyum dan canda tawa serta olokan.

Saya adalah orang yang mudah terpancing emosi dan gampang tersinggung. Agus adalah sosok yang tak pernah membuat saya tersinggung, bahkan dia bebas bicara apapun, namun entah mengapa saya selalu saja bahagia dan tertawa ketika dia sering mencandai. Begitupula yang saya rasakan kepada dirinya. Setiap berjumpa, saya selalu mencandai dengan berbagai kalimat mengandung tawa, walaupun usianya lebih senior, namun ia tak pernah menunjukkan wajah ketersinggungan bahkan yang ada adalah canda serta tawa ngakak khas Bangka.

Agus adalah sosok yang selalu ada kala saya membutuhkan bantuan darinya berupa konsep kegiatan, menjadi pembawa acara, bahkan ikut andil dalam beberapa kegiatan yang saya dan kawan-kawan lakukan. Ya, sosoknya adalah sosok manusia yang berusaha memberikan yang terbaik untuk orang lain. Sosok yang tak perhitungan tentang ilmu, tenaga, waktu bahkan mungkin juga materi. Sering saya bertanya tentang hal-hal yang kurang saya pahami, sering pula ia mengkritik beberapa hal dari saya dan memberikan masukan serta solusi. Entah mengapa, saya selalu saja menerima kritikan, saran dan masukan dari sosok ini tanpa debat atau adu argumen.

Agus, kadangkala kami tak jumpa dan komunikasi karena kesibukan masing-masing. Namun entah mengapa saya selalu merasa dekat dan menjadikan ia adalah sahabat baik yang selalu ada. Tak pernah kami ada ketersinggungan karena saya jarang komunikasi atau dia yang tak memberi kabar. Di antara kami seperti hati yang saling tahu satu sama lain dan saling mencandai kala berjumpa atau menelpon.

“Bat” itulah kalimat yang sering ia sapa kepada hampir semua orang sepantaran. “Bat” yang bermakna sama dengan “Bung” atau “Cak” ini berasal dari kalimat “Sobat” atau “Sahabat”. Inilah sapaan akrab Urang Bangka yang sesungguhnya. Agus adalah sosok yang selalu menyapa kawan-kawan dengan kalimat ini. Kalimat yang tak terlupakan kala ia menyapa dan menunjukkan bahwa semua orang adalah sahabat.

Bat, kita sama-sama bermain drama (teater) di Alun-Alun Taman Merdeka Pangkalpinang beberapa waktu silam. Kau kerjain aku menjadi pemeran kakek tua yang “dak inga” (kurang ajar) dan kau poles wajahku hingga semua penonton tak pernah tahu bawa pemeran kakek tua tersebut adalah Ahmadi Sofyan.

Bat, kita sama-sama pula bermain drama “Cak-Cak Doel Moeloek” yang saya sutradarai dan saya tulis naskahnya beberapa tahun silam dengan judul “Asak Budu Ge Saro (ABGS)” dengan melibat para pemainnya adalah tokoh-tokoh besar di Bangka Belitung.

Bat, kita sama-sama membuat acara peringatan Sumpah Pemuda di Tamansari Pangkalpinang bersama KAHMI Pangkalpinang. Bat, kita sama-sama tawa canda dalam berbagai kegiatan yang mungkin tak terhitung lagi berapa kali kita saling melempar tawa kebahagiaan.

Bat, kita sama-sama menjadi MC yang menghibur kala JOBB (Jazz On the Bridge-Bangka) akhir tahun 2017. Banyak yang saya pelajari dari sosokmu yang jauh lebih berpengalaman, Bat. Bahkan begitu bahagianya kau kala bercerita bagaimana Band Papinka yang kau sebagai manager itu menerima penghargaan di Hongkong dan Malaysia. Begitu senangnya kau Bat, kala bercerita kepada kawan-kawan bagaimana saya gugup menjadi MC karena kurangnya pengalaman serta kain sarung yang hampir melorot. Bat, kau selalu bahagia kalau mencandai saya dan saya pun selalu bahagia walau hanya melihat wajahmu saja.

Bat………, begitu banyak sahabatmu, tak terhitung kenalan dan kawan, begitu banyak organisasi dan komunitasmu, tersebar dimana-mana keluarga besarmu, tapi…. Di menit-menit terakhirmu, kau memilih berkumpul bersama kami. Ketika kau datang ke Pondok kebun itu, kau turun dari mobil yang kau setir sendiri, lantas kau menanyakan dengan kalimat canda “Mane Lift e?” kala kau hendak menaiki tangga pondok kebun yang saya desain cukup tinggi itu.

Melihat wajah kawan-kawan, dengan senyum khasmu, kau berkata: “Ko rela dak makan sari ne, walaupun acara di Alun-Alun ade makanan e, tapi ko nek makan nasi bungkus kek ikak, ko nek bersama kek ikak ne. Jadi jatah ko 2 bungkus aok” (Saya rela tidak makan hari ini, walaupun acara di Alun-Alun ada makanan e, tapi saya mau makan nasi bungkus bersama kalian, saya mau bersama kalian ini) ucapnya lantas mengambil posisi tempat duduk disamping saya setelah menyalami semua kawan. Kami pun berfoto bersama dan itulah fhoto terakhir sebelum sosok yang kami cintai ini mengembuskan nafas terakhir karena tenggelam di dalam kolong dibelakang pondok kebun tersebut.

Bat, ternyata kau memilih kami di detik-detik terakhirmu untuk kau sapa. Bahkan kau berikan lambaian saat kepergiaanmu yang membuat isak tangis banyak orang. Kau memberikan pesan dan kesan bahwa sepeninggalanmu kami harus kompak, harus bersama dan harus saling menjaga. Itulah hikmah dari persahabatan terakhir kita.

Bat, kau tetap ada dan kita akan bersama dalam do’a. Selamat jalan sahabatku, kau adalah orang baik dan kami para sahabat serta orang-orang yang mengenalmu menjadi saksi bahwa kau adalah orang baik.

Bat, sejak dulu aku mengenalmu, kau adalah sahabat baik. kau adalah sahabat yang hebat, Bat!
Selamat Jalan, Bat!

Bagikan.

Tentang Penulis

Komentar Anda