Oleh : AHMADI SOFYAN (Penulis Buku / Pemerhati Sosial)

IBU yang hendak melahirkan itu ibarat pesawat kehabisan bahan bakar di udara dan hendak mendarat di bandara terdekat. Pekerja medis termasuk doketr adalah bagian dari otoritas bandara. Sekalipun bandara penuh dengan parkir pesawat, maka pendaratan pesawat yang kehabisan bahan bakar adalah keharusan. Itulah yang dinamakan SOP (Standar Operasional Prosedur).

IBU adalah kekuatan besar dalam peradaban dunia. Karena ia melahirkan dan mendidik generasi penerus yang tidak bisa diabaikan dari sisi manapun. Bahkan manusia mulia, Nabi Besar Muhammad SAW memerintahkan 3 kali penghormatan lebih besar kepada Ibu dibandingkan kepada Bapak.

Banyak faktor mengapa seorang Ibu lebih memiliki peran penting dalam peradaban ini walaupun tidak berada pada garis terdepan. Salah satunya adalah kemuliaan dalam mengandung (hamil) dan melahirkan. Hamil adalah kemuliaan dan kebahagiaan bagi seorang perempuan (calon ibu), walaupun berbulan-bulan dalam kepayahan. Oleh karenanya, pelayanan bagi ibu hamil menjadi perhatian khusus semua pihak.

Baru-baru ini dan masih belum selesai perkaranya, yakni Ibu muda bernama Rahayu (18 Tahun) yang harus menahan derita melahirkan didalam mobil setelah ditolak pelayanan oleh Rumah sakit plat merah, Rumah Sakit Bakti Timah (RSBT) Pangkalpinang. Tentunya hal ini menjadi sebuah kenyataan yang miris, memilukan sekaligus sangat memalukan. Timah yang dikeruk dari perut bumi Bangka Belitung ini ternyata masih tetap panas bagi masyarakat Bangka Belitung, sehingga seorang ibu yang hendak melahirkan di Rumah Sakit Bakti Timah (RSBT) tidak dilayani dengan baik sebagaimana seharusnya manusia diperintahkan melayani dan menghormati perempuan, apalagi ibu hamil.

Entahlah, nampaknya niat baik puluhan tahun silam membangun rumah sakit dengan nama BAKTI TIMAH itu ternyata kebalikannya, tak berbakti terhadap masyarakat. Bagaimana tidak, sebelum itu, tepatnya seorang sahabat pernah menceritakan langsung adiknya melahirkan di dalam WC rumahnya setelah ditolak juga oleh RSBT Pangkalpinang. “Keluarga kami lah pernah jadi korban. Bahkan dialami adik kandungku sendiri di bulan April kemaren. Adikku ke RS Timah mau melahirkan pakai kartu BPJS karena laki die juga kebetulan sopir orang pegawai PT. Timah, tapi malah ditolak oleh Pihak Perawat katanya atas perintah atasan. Dan adik kami pulang ke rumah. Sampai di rumah adik kami melahirkan di WC rumah. Kronologis kejadian: Kata pegawai RSBT bahwa (1) Tidak ada bidan di RSBT (2) alasannya kamar penuh (3) Karena pakai BPJS. Kejadian ini tanggal 30 April jam 10 malam ke RSBT setelah itu disuruh pulang dan jam 11.40 malam melahirkan di WC rumah kami…………” begitulah obrolan sahabat kepada saya tengah malam buta via WhatsApp.

Miris bukan? Artinya pelayanan buruk ini bukan Cuma dialami oleh Ibu Rahayu. Karena jauh sebelum kejadian ini (ibu Rahayu), dari sebuah group WA, seorang sahabat menceritakan juga pelayanan buruk RSBT dan bahkan ada seorang sahabat bersumpah tidak akan pernah lagi mau membawa keluarganya ke RSBT karena trauma dengan pelayanan buruk yang pernah dia terima. Ternyata begitupula dengan yang saya alami bulan Ramadhan lalu saat membawa Mak ke tempat yang sama dengan tidak dilayani dengan jujur dan baik sebagaimana rumah sakit seharusnya.

Kasus yang menimpa ibu Rahayu ini hanyalah bagian kecil yang naik ke permukaan. Oleh karenanya peran pemegang saham, pemerintah dan masyarakat dalam hal ini sangat dibutuhkan untuk perubahan dan perbaikan dalam pelayanan di Rumah Sakit tersebut bahkan untuk semua rumah sakit di Bangka Belitung. Karena kejadian seperti ini berulang, tentu ada yang tidak sehat dalam jajaran petinggi di RSBT. Oleh karenanya pihak terkait pengambil kebijakan perlu untuk segera grounded petugas beserta petingi yang lalai dalam pelayanan. Direktur RSBT seharusnya lebih sigap dan lebih bersahabat dalam menerima berbagai keluhan, namun selama ini justru yang ada adalah sikap merasa paling terhormat dan tak bisa disentuh oleh tangan rakyat. Sebagai orang Bangka, sikap dan kejadian ini adalah citra buruk tatanan masyarakat Bangka Belitung yang sigap dan santun, yang selama ini memiliki empati tinggi atas kondisi sesama.

***

IBU yang hendak melahirkan itu ibarat pesawat kehabisan bahan bakar di udara dan hendak mendarat di bandara terdekat. Pekerja medis termasuk doketr adalah bagian dari otoritas bandara. Sekalipun bandara penuh dengan parkir pesawat, maka pendaratan pesawat yang kehabisan bahan bakar adalah keharusan. Itulah yang dinamakan SOP (Standar Operasional Prosedur).

Oleh karenanya apapun alasan yang dikemukakan oleh pihak RSBT tidak akan pernah bisa diterima, apalagi alasan mencari celah pembenaran dan malah Direkturnya sibuk membuat analisa bodoh dengan menyebutkan bahwa persaingan kompetitor Rumah Sakit lain.

Ketika Media disebut Ngeroh Aek!

BELUM selesai perkara yang menghantui RSBT ini, tiba-tiba Badan Pengawas Rumah Sakit Provinsi Bangka Belitung (BPRS Babel) membuat ulah kala menyambangi pasien Rahayu dengan menuduh media sebagai “tukang ngeroh aek”. Kepada keluarga pasien, salah satu oknum BPRS berkata: “Jangan nue igak ngomong kek media, ngeroh aek” (Jangan terlalu banyak omong ke media, bikin keruh suasana).

Tentunya “bisikan” konyol dan bodoh dari oknum BPRS ini patut dipertanyakan netralitasnya bahkan harus diminta penjelasan lebih lanjut. Sebagai pemerhati sosial dan pernah menempuh pendidikan bahasa, maka saya melihat “bisikan” oknum BPRS ini justru yang “ngeroh aek”. Padahal harus kita akui, kejadian yang menimpa Ibu Rahayu ini justru menjadi terang dan diketahui khalayak (bahkan BPRS sendiri) dari pihak media. Kalaulah tidak ada media, akan berapa banyak lagi Rahayu-Rahayu lain? Akan berapa banyak lagi rumah sakit-rumah sakit arogan kokoh berdiri gedungnya, tapi rapuh mental pelayanannya.

Bagi beberapa oknum dan pihak yang belum mengalami sakitnya akibat buruknya pelayanan di rumah sakit, bayangkan bahwa bagaimana jika ibu Rahayu itu adalah isteri anda, bayangkan itu adalah putri anda, bayangkan itu adalah saudara kandung anda, bayangkan itu adalah tetangga anda, bayangkan itu adalah keluarga anda! Dimana nurani kemanusiaan? Saya mengalami bagaimana sakitnya (hati) kala berada di rumah sakit dengan membawa orang tercinta yang sakit mengalami pelayanan buruk yang menyakitkan!

Nah, kejadian buruk yang menimpa ibu Rahayu (18) yang melahirkan didalam mobil setelah sebelumnya ditolak oleh RSBT Pangkalpinang dengan alasan kamar penuh, adalah bukti bahwa di negeri ini orang miskin (masih) dilarang sakit!

Padahal, bagi pihak rumah sakit manapun di dunia ini, setiap umat manusia, tak peduli miskin atau kaya, pelayanan kesehatan wajib didapatkan!

Salam Sakit! (*)

Bagikan.

Tentang Penulis

Komentar Anda