BANGKATIMES, PANGKALPINANG – Ahmadi Sopyan begitu terkesan pada sosok Tony Wen. Memberi judul ‘Kite harus tahu’, pada potongan gambar berikut tulisannya tentang hal-hal yang terkait tokoh asal Bangka Belitung, Tony Wen tak luput dari perhatian pemerhati sosial budaya Bangka Belitung, itu.

Akun instagram Ahmadi, pada 26 Februari 2018 setahun lalu, menceritakan sedikit pengantar tentang sosok Tony Wen. Nama yang diabadikan sebagai salah satu jalan di Kota Pangkalpinang, itu.

Di akhir tulisan, Ahmadi yang juga adalah penulis buku, memberi penekanan, “Sayangnya Bangka Belitung tidak pernah mengajukan putra daerah Bangka ini menjadi pahlawan nasional.” Kalimat penutup, yang menegaskan pentingnya seorang Tony Wen bagi republik ini.

20190209_113504Siapa sih Tony Wen? Jauh sebelum mempublikasikan di Instagram dan membagikan gambar yang sama di grup-grup WhatsApp, Ahmadi Sopyan telah menulis tentang sosok Tony Wen. Melalui bab di dalam buku biografi Amung Tjandra, Ahmadi menuliskan kalau Tony Wen yang kelahiran Sungailiat, Bangka, di tahun 1911, adalah salah satu sosok penting dalam sejarah Republik Indonesia.

Tony yang pernah tinggal di Kota Solo, memimpin organisasi peranakan bernama Barisan Pemberontak Tionghoa, tetapi menurut kenyataannya bukanlah badan bersenjata seperti BPRInya Bung Tomo.

Organisasi yang dipimpin oleh Tony Wen ini membantu penyediaan kebutuhan bahan-bahan perjuangan di Solo. Mereka mengurus logistik dengan melaksanakan barter barang-barang hasil bumi dari daerah kekuasaan Republik dengan barang-barang daerah kekuasaan Belanda. Barisan pemberontak Tionghoa ini ternyata bekerjasama secara erat dengan Barisan Pelopor yang dipimpin oleh Soediro, salah satu tokoh Partai Nasional Indonesia (PNI). Tony Wen kemudian menjadi anggota PNI dan menjadi pembantu R.P. Soeroso, membentuk urusan minoritas di Departemen Dalam Negeri.

Peranan penting Tony Wen, sangat terasa di saat masa pengasingan Ir Soekarno di Pulau Bangka. Uang kiriman dari Tony Wen mencukupi kebutuhan sehari-hari Bung Karno dan pembesar Republik Indonesia yang sedang diasingkan.

Kiriman dari Tony Wen itu, disampaikan melalui perantaraan iparnya, Tjen Fo Sang, yang adalah orangtua Amung Tjandra.

Peranan menonjol lainnya dari Tony Wen adalah di saat republik ini sedang kesulitan keuangan. Dia membantu mencari jalan ke luar negeri. Detil caranya, termasuk bagaimana Tony Wen menghindar dari patroli Belanda, akan diceritakan dalam rangkaian kisahnya dalam tulisan-tulisan berikutnya.

Tony Wen, harus jadi pahlawan nasional.

DONNY FAHRUM

Bagikan.

Tentang Penulis

Komentar Anda