BANGKATIMES, PANGKALPINANG – Ratusan mahasiswa dan siswa SMA meramaikan kegiatan Festival Kebudayaan yang diselenggarakan oleh Pendidikan Guru Sekolah Dasar Perkembangan Masyarakat dan Budaya STKIP Muhammadiyah Bangka Belitung.
Salah satu rangkaian kegiatan festival adalah seminar kebudayaan yang diisi oleh penulis buku dan pemerhati budaya Bangka Belitung, Ahmadi Sofyan, dengan tema “Menanam Budaya Lokal pada Kids Zaman Now di Era Globalisasi”.

Dalam menyampaikan materi, Ahmadi Sofyan banyak mengupas tentang bagaimana menumbuhkan kecintaan terhada budaya dan peran pemerintah terhadap para pecinta budaya yang selama ini masih sangat kurang akibat para pemimpin tidak paham budaya.

“Daerah kita kurang berkarakter, karena budayanya tidak kokoh akibat para pemimpin kurang paham dan kurang cinta budaya,” ungkap putra asal desa Kemuja ini.

Selain itu, Ahmadi juga menjelaskan banyak filosofi budaya lokal (Bangka Belitung) seperti nganggung, sedekah ruwah, mandi belimau, nuju jerami, rudat, dambus hingga mengenai kuliner seperti lempah kuning, rusip, lempah darat, martabak dan lain sebagainya.

“Sayangnya, kita sendiri tidak pede terhadap kearifan lokal ini. Contohnya, kalau perayaan hari-hari besar, justru yang kita hidangkan adalah daging rendang dan masakan padang, bukan masakan khas Bangka. Begitupula pemerintah kita, kalau ulang tahun daerah seperti kota, kabupaten atau provinsi, yang diundang bukan seniman budaya, tapi artis dangdut ibukota. Seharusnya pemerintah di semua daerah biasakan menampilkan seniman budaya. Misalnya kita undang wayang dari Jawa, seniman dari Sulawesi, Kalimantan dan lain sebagainya. Begitupula seniman kita pun diundang ke daerah-daerah lain atau dipadukan,” ungkap Ahmadi Sofyan yang disambut antusias oleh para peserta.

Tanya jawab dalam seminar tampak begitu antusias dari para peserta. “Untuk menumbuhkan cinta budaya kepada anak-anak atau kids zaman now, maka ajak mereka untuk melihat dan mendengar langsung. Sekolah berperan untuk itu. Guru-guru jangan hanya berkutat mengajar di dalam kelas, tapi ajak siswa ke tempat budayawan, dialog, ngobrol dan mengenalkan mereka pada budaya. Undang budayawan. Untuk tahu pantun, coba ajak anak-anak ke rumah Pak Cik Kario, untuk tahu dambus, coba ke Mang Sulai, atau undang mereka ke dalam kelas, lantas perkenalkan langsung kepada anak-anak. Bikin anak-anak itu kagum dulu terhadap budaya dan budayawan. Nggak usah banyak teori dan penjeleasan tentang sejarah dan filosofi dulu, karena mereka masih SD, tapi bikin mereka kagum dan senang dulu,” jawab Ahmadi Sofyan ketika ditanyakan bagaimana menumbuhkan cinta budaya kepada anak-anak SD.

IMG-20180509-WA0014_crop_900x600-01

“Pemimpin yang tidak paham budaya tidak akan pernah mencintai budaya, jauh dari para budayawan dan tidak akan berbudaya dalam kepemimpinannya,” ungkap kolomnis di berbagai media ini.

RELEASE

Bagikan.

Tentang Penulis

Komentar Anda