Oleh : AHMADI SOFYAN (Penulis Buku / Pemerhati Sosial)

ORANGTUA kita dahulu tak paham hukum, namun taat hukum. Tak luas ilmu agamanya, tapi mengalamalkan nilai-nilai agama, tak tinggi pendidikannya namun sangat terdidik dan mendidik, tak paham ilmu sosial, namun sosialisasi tinggi dan beradab dan tak pernah seminar dan ngoceh soal budaya namun sangat berbudaya. Bagaimana dengan kita saat ini?

KARENA keterbatasan teknologi dan fasilitas, para orangtua terdahulu, mayoritas bukanlah orangtua terpelajar sebagaimana para orangtua zaman sekarang. Andaipun ada yang terpelajar atau memiliki pendidikan tinggi, hanya segelintir saja alias sangat sedikit sekali. Apalagi bagi masyarakat perkampungan atau pelosok. Namun keterbatasan pendidikan masyarakat kampung (orangtua dahulu) serta fasilitas yang sangat tidak mumpuni, justru membuat mereka menjadi orang yang sangat bijaksana dan penuh dengan pengamalan nilai-nilai kemanusiaan, agama, menggunakan perasaan (nurani) dan keyakinan akan ada pembalasan bagi setiap perbuatan.

Pengamalan Agama
DALAM tulisan sebelumnya sudah saya ungkapkan bahwa Mak bukanlah sosok yang memiliki pengetahuan agama yang luas, bahkan membaca Al-Qur’an saja Mak banyak belajar kepada Bak dan anak-anaknya. Mak tidak pernah merasa tua dan sungkan untuk belajar, terutama mengenai pengetahuan agama.

Dari minimnya pengetahuan agama, namun apa yang diketahui Mak usahakan untuk diamalkan disela-sela kesibukannya mencari nafkah bersama Bak untuk 10 orang anak-anaknya. Mak yang dikenal paling ramai di dalam rumah, nyaris tak pernah diam dari suara-suaranya yang menggelegar kala memberikan nasehat dan petuah kepada anak-anaknya. Kursi ruang tengah dan dapur adalah tempat duduk Mak kala memberikan “ceramah dadakan” kepada anak-anaknya.

Kepada saya dan anak-anak laki-lakinya seperti adik saya, seringkali Mak memberikan nasehat berulang, yakni soal sholat. “Ikak jen aben ninggal sembahyang (sholat)”, “Ikak jen jauh aben kek agama”, “Ikak nek inget dan nek tau kek Tuhan” dan lain sebagainya. Selanjutnya mengenai tauhid, Mak juga memberikan petuah dan nasehat yang sederhana ala Mak-Mak kampung, semisal: “Ikak jen aben ninggal agama (Islam)” atau “Mun lah dek beragama agik, dak ape gune agik idup. Along mati bae agik e” dan lain sebagainya. Bagi Mak agama dan tauhid adalah satu-satunya pegangan yang bisa menyelamatkan kehidupan yang abadi (akhirat).

Mak memiliki 10 orang anak, wajar saja ia memiliki kekhawatiran yang mendalam mengenai perilaku beragama dan tauhid anak-anaknya. Walaupun anak-anaknya dimasukin pendidikan pesantren, tapi Mak tetap memberikan petuah-petuah agama yang sederhana kepada anak-anaknya. Bagi Mak bukan pendidikan agama tinggi yang membuat keselamatan dalam kehidupan di akhirat nanti, tapi pengamalan dari pemahaman agama dalam kehidupan sehari-hari-lah yang menjadi nilai amalan. Bagi saya pribadi, pemahaman Mak sangatlah sederhana namun mengena.

Selanjutnya dalam kehidupan sosial, Mak memberikan nasehat atau petuah “Ikak nek ade rasa malu” (Kalian harus memiliki rasa malu) atau “Ikak nek pacak mawak diri di pudong urang” (kalian hendaknya bisa membawa diri dalam komunitas/pergaulan dengan orang lain) dan lain sebagainya.

Nasehat Kejujuran
KEJUJURAN adalah salah satu nasehat yang seringkali saya dengar dari mulut Mak. Bagi Mak, kejujuran adalah nilai utama dalam kehidupan sosial. Oleh karenanya nasehat dan petuah Mak tentang kejujuran berulangkali ia sampaikan bahkan kadangkala bosan juga mendengarnya, tapi Mak tak pernah bosan mengulanginya agar anak-anak tercinta benar-benar menanamkan nilai-nilai kejujuran dalam kehidupan. Begitulah sosok seorang Mak, ia tak kan pernah bosan apalagi lelah mengingatkan dan menasehati anak-anaknya.

Nasehat ini semakin intens Mak berikan kala anak-anaknya sudah mulai bekerja atau berurusan dengan organisasi di kampung atau berurusan dengan keuangan. “Jen aben ikak ngakal urang”, “nek jujur ikak begawi” atau “Hati-hati ikak kek duit orang”, begitulah beberapa nasehat Mak kepada kami anak-anaknya.

Mak seringkali memberikan nasehat tentang kejujuran untuk meneladani sosok Bak (Bapak). Soal kejujuran, sangat tidak berlebihan kalau Mak meminta kami anak-anaknya untuk meneladani sosok Bak. Sejak muda dan hingga usia senja-nya, Bak berkutat dengan keuangan. Berpuluh-puluh tahun ia menjadi Bendahara Lembaga Kesejahteraan Desa (LKD), sebuah usaha desa dengan ribuan hektar karet. Selain itu puluhan tahun juga disaat bersamaan, Bak mengurus keuangan dan pembangunan Masjid. Tak cukup disitu, ternyata kejujuran Bak membuat banyak orang-orang yang berduit di kampung kami dulunya sering menitipkan uang kepada Bak. Saya sendiri sering melihat, kalau ada orang kampung yang jual lada dan uangnya dititipkan kepada Bak, selanjutnya diambil jika dibutuhkan. Begitu juga dengan beberapa tauke karet yang menyimpan modalnya. Seringkali kami mengolok Bak sebagai “Bank” karena banyak uang orang yang dipercaya untuk ia simpan. Seluruh uang disimpan Bak dalam peti besi dalam kamar tidurnya yang kodenya hanya bisa dibuka oleh Bak.

Bangga, ya…, saya benar-benar bangga dengan Bak dan Mak. Karena disaat bersamaan seperti itu, kami hidup dalam kesederhanaan. Jika membutuhkan uang untuk membiayai anaknya sekolah, justru Bak sering meminjam uang kepada paman di Pangkalpinang. Mak pun harus membuat kue setiap hari untuk menambah pendapatan demi menafkahi kami sekeluarga.

Mengapa Bak bisa seperti ini? Tidak lain, karena bagaimana pun cerewetnya sosok Mak, tapi saya benar-benar bangga, Mak tak pernah menuntut Bak untuk hidup mewah. Ditengah kerasnya Mak dalam mendidik anak-anaknya, Mak juga keras dalam prinsip kejujuran. Bak enjoy saja mengurus keuangan sebagai bendahara, karena Mak ikut menjaga dan sangat ketat dalam memberikan nasehat keuangan kepada Bak, bukan sebaliknya, mengompori Bak dengan meminta diluar batas kemampuan Bak. Inilah yang saya pelajari, bahwa dibalik laki-laki yang jujur, ada sosok perempuan yang kokoh menjaganya.

Dari perilaku Bak seperti ini, beberapa anaknya seringkali diminta juga oleh masyarakat mengurus keuangan. Namun, Mak selalu keras menasehati dengan kalimat: “Cukoplah Bak ikak yang ngurus keuangan orang. Ikak jangan, karena berat dan susah. Kita ada rezeki dan belanja sedikit saja, orang curiga”. Inilah salah satu mengapa saya selalu menolak posisi mengurus keuangan orang banyak, terutama dalam organisasi.

IMG-20170909-WA0009

Begitu juga suatu saat adik bungsu saya diminta oleh organisasi untuk mengurus keuangan yang lumayan besar. Adik meminta pendapat saya dan petuah Mak ini-lah yang saya sampaikan dan akhirnya adik pun tidak menerima tawaran tersebut.

***
MAK, terima kasih tak terhingga. Karena didikan dan nasehat Mak yang dulu kami anggap “terlalu cerewet” ternyata penuh manfaat, karena kami harus selalu “eling lan waspada” dalam setiap langkah. Di era modern seperti sekarang ini, “Singa bisa menerkam kapan pun dan dimana pun”. Di era modern seperti sekarang ini, “Singa yang sedang mengeluarkan giginya bukan berarti ia sedang tersenyum pada kita, tapi ia sedang mengukur berapa lama ia membutuhkan waktu melumpuhkan kita”. Begitulah yang dapat saya istilahkan dan saya tangkap dari fenomena sosial kehidupan modern.

Dari para orangtua masa silam saya banyak belajar. Karena orangtua kita dahulu tak paham hukum, namun taat hukum. Tak luas ilmu agamanya, tapi mengalamalkan nilai-nilai agama, tak tinggi pendidikannya namun sangat terdidik dan mendidik, tak paham ilmu sosial, namun sosialisasi tinggi dan beradab dan tak sibuk bicara soal budaya namun sangat berbudaya. Bagaimana dengan kita saat ini? Sudah saatnya ada perenungan dalam diri kita masing-masing. Semoga kita semua TIDAK menjadi orang muda yang merasa hebat dan orang tua yang tak bermanfaat.

Terima kasih Mak, petuah dan nasehat Mak adalah salah satu pedoman anak-anakmu dalam melangkah menelusuri kehidupan.

Salam Mak!(*)

(BERSAMBUNG)

Bagikan.

Tentang Penulis

Komentar Anda