BANGKATIMES, DONGGALA – Hadir di Sulawesi Tengah, tim PWI – SMSI Bangka Belitung Peduli yang diperkuat juga oleh pramuka, segera bergerak. Setiba di Bandara Mutiara SIS Al Jufrie, Palu, tim langsung diajak untuk bertemu warga yang terdampak bencana gempa bumi dan tsunami.

Daerah yang dituju adalah daerah pinggiran, jauh dari kota. Pertimbangannya sederhana, kemungkinan bantuan menjangkau mereka, lebih kecil dari korban di kota.

Sekretaris SMSI Sulawesi Tengah, Heru, yang memfasilitasi tim PWI-SMSI Babel untuk penyaluran bantuan, mengarahkan tim untuk ke daerah pesisir pantai barat Donggala. “Kita assesment dulu. Lihat apa kebutuhan mendesak warga di sana,” kata Heru, Selasa, 9 Oktober 2018.

Daerah pesisir barat Donggala yang berjarak sekitar 30 kilometer dari Kota Palu, adalah kawasan yang terdampak parah gelombang tsunami. Sepanjang melewati jalan di sana, area nampak kosong. Rata dengan tanah. Beberapa mobil terlihat hancur, kapal yang juga terlihat hancur, terseret lebih dari seratus meter dari bibir pantai. “Tadinya ini kawasan padat penduduk. Semua rumah jadi rata. Penduduk yang selamat, pergi mengungsi,” kata Heru.

Perkiraan Heru untuk membawa tim PWI-SMSI Babel ke pesisir barat Donggala, sudah tepat. Sasaran pertama yang dituju adalah pengungsi di Desa Pantoloan yang berkumpul mendirikan belasan tenda di lapangan sepakbola.

“Kami butuh beras, Pak. Juga susu untuk anak-anak,” kata Eka, salah seorang pengungsi ketika berbincang dengan tim. Di sana, tim Pramuka Babel yang ikut dalam rombongan PWI – SMSI Babel, sempat pula memberikan obat-obatan ringan kepada beberapa korban.

Dari sini, tim lalu bergerak menuju Desa Lero Tatari yang berjarak sekitar 10 KM dari Desa Pantoloan. Tim berhenti di lapangan SMP Negeri 2 Sindue, yang menjadi tempat puluhan kepala keluarga mengungsi.

Kepala Desa Lero Tatari, Arlin, menyambut hangat kehadiran tim PWI-SMSI Babel. Ternyata, di desa itu tak cuma puluhan KK saja yang menjadi pengungsi. Kepala Desa mengajak tim untuk berjalan menyusuri jalan di area perkebunan belakang sekolah. Sekitar 500 meter, di perkebunan itu berdiri puluhan tenda. Ada ratusan orang yang mendiaminya. Terlihat bahan peneduh sangat seadanya. Misalnya, seprei ada yang dijadikan fungsinya sebagai terpal penutup. “Kita bisa lihat sendiri, di sini para pengungsi perlu terpal untuk tenda,” kata kepala desa.

Melihat kondisi itu, tim PWI – SMSI Babel Peduli yang berintikan Nico Alpiandy, Donny Fahrum, Rudy Syahwani, Mirwanda, Reza Fachrozy, Romlan, dan Nopriansyah, memutuskan untuk hadir kembali pada Rabu, 10 Oktober 2018, dengan membawa bekal lebih banyak.

Selesai melakukan pengepakan pada Rabu pagi hingga siang, di sore harinya tim berangkat. Ada bekal ratusan karton susu bayi, biskuit bayi, diapers, tissue basah, bubur bayi, dan biskuit untuk dewasa yang disiapkan ke lokasi. Tim juga membawa puluhan terpal untuk dibagikan. Di hari yang sama, tim juga membeli satu ton beras untuk segera dibagikan di lokasi pengungsian di hari berbeda. Kesemuanya langaung dibawa ke lokasi pengungsian di pesisir barat Donggala.

RELEASE

Bagikan.

Tentang Penulis

Komentar Anda