BANGKATIMES.com, Sungailiat – Ada suasana yang berbeda di Gedung Dharma Wanita, Sungailiat, Kabupaten Bangka, pada Sabtu, 10 Februari 2018 pagi. Gedung yang biasanya lengang, pagi itu berubah menjadi hingar-bingar, riuh oleh tepuk tangan. Ratusan pasang mata, tertuju pada sosok remaja putri berhijab, yang berbicara di atas panggung: Shofi Latifah Nuha Anfaresi.

Nuha, demikian remaja itu biasa disapa, kurang lebih sama dengan remaja lain seusianya. Apalagi, nama Nuha memang tak setenar remaja yang nge-hits karena pandai menyanyi atau bikin ulah di media sosial. Namun, di kalangan ilmuwan muda dan akademisi, baik di Indonesia maupun di Amerika Serikat, nama remaja dari Pulau Bangka ini sedang dibicarakan.

Di usia mudanya, Nuha punya prestasi yang membanggakan dan mengundang decak kagum. Karyanya yang memenangkan Lomba Karya Ilmiah Remaja 2016, menarik perhatian sutradara Laura Nix sehingga membuatkan film dokumenter “Inventing Tomorrow”. Selanjutnya Nuha pun diundang dan menjadi salah satu pemeran dalam film dokumenter Sundance Film Festival yang berlangsung bulan Januari 2018 lalu, di Amerika Serikat.

Nuha pun bergabung dengan para remaja berprestasi lainnya dari berbagai negara dalam ajang film tersebut. Dari sebanyak TIGA BELAS RIBU karya seluruh dunia yang masuk ke panitia, hasil karya NUHA menjadi salah satu yang TERBAIK.

Dengan capaian prestasi tersebut, tentunya pendapat Nuha layak untuk didengar. Terutama tentang motivasi berprestasi seperti apa yang mendorongnya sehingga mampu melejitkan potensi diri. Oleh BKPRMI (Badan Kontak Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia), Shofi Latifah Nuha Anfaresi atau akrab disapa Nuha dihadirkan untuk berbagi pengalaman dan inspirasi. Ratusan pelajar yang hadir, antusias mendengar.

Kepada hadirin, Nuha bercerita film “Inventing Tomorrow” merupakan hasil dari kecemasan dan penelitiannya saat ia masih duduk di bangku SMAN 1 Sungailiat.

Remaja kelahiran 8 April Tahun 2000 ini resah terhadap pencemaran lingkungan karena timah. Lalu ia melakukan penelitian dan berinovasi menemukan invensi filter pasir Bangka untuk mengurangi pencemaran. Penelitian ini membuatya terpilih mewakili Indonesia di Intel ISEF 2017 di Los Angeles.

Kehadiran Nuha di tengah-tengah siswa menjadi inspirasi tersendiri. Apalagi, Nuha yang fasih berbicara bahasa Inggris, sempat bercanda dengan berpidato mengikuti gaya dan isi pidato Mantan Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama, membuat yang hadir kian kagum. Ditambah pula ketika Ahmadi Sofyan, sang pemandu acara menceritakan beberapa prestasi Nuha semenjak Sekolah Dasar di SD Muhammadiyah Sungailiat.

“Nuha ini selain selalu juara kelas, ia juga pernah menerbitkan karyanya yang diterbitkan oleh penerbit besar, Mizan dan satu lagi yang mengharukan dan membanggakan, ternyata Nuha ini sudah hafal 3 juz Al-Qur’an,” ujar Ahmadi Sofyan yang disambut gemuruh tepuk tangan.

Tak hanya siswa, beberapa guru yang pernah mendidik Nuha pun sempat hadir dan menyatakan keharuan dan kebanggaan mereka terhadap prestasi yang dicapai oleh putri pertama dari pasangan Ustadz Fadillah Sabri dan Dr. Reniati ini.

Selesai acara di Sungailiat, di hari yang sama, sorenya Nuha diundang oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STKIP Muhammadiyah Bangka Belitung di Pangkalpinang. Bertempat di aula, di hadapan ratusan siswa dan dosen, Nuha kembali “berkisah” dan memberikan tips-tips cerdas dalam mengisi masa remaja dengan prestasi. Acara yang tetap dipandu oleh budayawan sekaligus penulis, Ahmadi Sofyan, ini penuh berisi canda tawa, keharuan, kebanggaan dan tanya jawab dari para mahasiswa yang datang dari berbagai kampus.

“Jangan cengeng, jangan gampang menyerah, berani keluar dari zona nyaman dan jangan pernah jauh dari Al-Qur’an. Itu kunci yang saya pegang. Saya selalu meminta kepada Allah SWT, tidak kepada yang lain. Satu lagi, saya selalu fokus dengan apa yang sedang saya kerjakan bahkan saya berani berhenti bermain media sosial,” ungkap mahasiswi semester 1 Universitas Islam Indonesia Yogyakarta ini.

Kekaguman para mahasiswa dari berbagai kampus kian nampak ketika Nuha bercerita tentang bagaimana ia bisa melakukan penelitian yang idenya semenjak ia duduk di bangku Sekolah Dasar dan ditulis dalam bentuk karya ilmiah kala ia duduk di bangku SMA. “Ini membutuhkan proses dan saya belajar dengan banyak membaca dan bertanya. Selain itu saya ingin berdakwa tentang Islam melalui science,” ungkap pemeran film Young Muslim Inventor dalam “Inventing Tomorrow” di USA ini.

Ahmadi Sofyan, selaku tokoh pemuda sekaligus budayawan muda Bangka Belitung ini mengungkapkan kekagumannya yang luar biasa terhadap prestasi remaja ini. “Di saat remaja seusianya sedang “klitet” (begatel), sibuk dengan fashion dan mencari jati diri, Nuha membuktikan diri dengan karya nyata dan prestasi mendunia. Lebih hebatnya, dia satu-satunya yang berjilbab dan menghafal Al-Qur’an di antara para peneliti muda di seluruh dunia. Dia membawa nama baik Bangka Belitung dan Indonesia, tapi sayangnya seperti “dak di retak” (tidak dipedulikan) alias dianggap angin lalu saja. Beda dengan prestasi dibidang nyanyi atau apalah,” ungkap Ahmadi Sofyan kritis di tengah-tengah memandu acara.

DONNY FAHRUM

Bagikan.

Tentang Penulis

Komentar Anda