Oleh : AHMADI SOFYAN (Penulis Buku / Pemerhati Sosial)

 

DI RAUT wajahnya yang lelah dan sakit, seorang Mak masih berusaha tersenyum. Semua dilakukan demi anak-anaknya….. Adakah anak-anak mampu melakukan itu dalam kondisi yang sama didepan seorang Mak?

 

SEKITAR tahun 2007/2008, saya sudah banyak beraktifitas di Bangka. Pada tahun-tahun itu sedikit demi sedikit saya mulai meninggalkan berbagai aktifitas di Kota Malang Jawa Timur. Di Bangka pun saya tidak banyak tinggal di kampung, tapi lebih banyak di Kota Sungailiat dan Pangkalpinang.

Namun intensitas saya berkomunikasi dan bermanja ria dengan Mak cukup sering. bahkan boleh dikatakan saya cukup manja dengan Mak. Karena selama 14 tahun merantau di negeri orang, membuat saya tidak bisa bermanja ria secara langsung dengan sosok perempuan paling berjasa dalam hidup saya ini. Namun demikian, saya adalah sosok yang cukup keras, memiliki sifat hampir sama dengan Mak. Tak jarang dibalik suka bercanda dengan Mak, di lain waktu kalau Mak marah saya sering menjawab bahkan membuat Mak kecewa. Jadi, cukup banyak juga dosa saya terhadap Mak dan insya Allah Mak tak kan memiliki dosa kepada anak-anaknya.

 Ditengah Tangisan Kekecewaannya Mak Berdo’a

MAK sangat dekat dengan anak-anaknya, terutama kakak perempuan saya Farinah (anak ke tujuh). Ia adalah sosok anak Mak yang benar-benar setia dan taat kepada orangtua. Bahkan tak jarang saya meneteskan air mata karena kebaikan, ketaatan dan kesetiaan sosok kakak perempuan saya ini kepada orangtua. Padahal Farinah adalah anak Mak yang paling sering kena amarah Mak, maklum mereka tinggal satu rumah.

mak 15b

Mak, di saat santai semasa ia masih sehat.

Selain itu, Mak juga sangat dekat dengan adik saya bernama Husnan, maklum anak bungsu. Sejak kecil anak bungsunya ini sering diolok-olok manja dengan kalimat: “cu unggat-unggat, anak bungsu anak jiyat”. Menurut Mak, sosok anak bungsu-nya ini sangat mirip dengan sosok Bak, baik wajah, cara bicara, jalan hingga perilakunya.

Namun, namanya anak banyak, sudah sangat wajar Mak cerewet dan kadangkala amarahnya seringkali diluapkan tanpa memandang tempat atau waktu. Mak sering tak ingat kalau anak-anaknya sudah dewasa, sehingga seringkali diperlakukan seperti anak kecil dihadapan orang banyak.

Suatu saat, ada sebuah kejadian yang cukup miris dan membuat saya teringat kembali saat hari raya Idul Adha beberapa minggu silam saat kumpul keluarga di kediaman adik bungsu saya di Kemuja. Kejadian ini saya ingat betul, sekitar tahun 2007/2008, saat saya dan adik masih berstatus bujangan.

Saat pulang kampung, saya mendapati adik sedang marah, teriak dan menangis di dapur sambil membanting sebuah barang. Padahal yang saya tahu selama ini adik adalah sosok yang tidak pernah mengumbar emosi atau marah besar. Dia tergolong orang yang sabar dan mengalah. Bahkan kepada saya sendiri dia seringkali mengalah. Sifatnya berbeda dengan sifat saya yang cenderung cepat emosi dan nekad. Tentunya melihat kejadian ini saya benar-benar kaget. Pasti ada sesuatu yang besar sehingga membuat adik bungsu saya ini melampiaskan emosinya seperti itu.

Ternyata Mak dan adik bungsu saya ini sedang bersitegang sebuah persoalan yang sebenarnya sangat sepele. Mungkin karena terlalu sering diperlakukan (dicerewetin dan dimarahin) oleh Mak, sehingga hari ini ia melampiaskan dari apa yang ia tahan selama ini. Dalam suasana tegang itu, adik menangis, Mak juga menangis, keduanya sama-sama menangis karena adik saya merasa “gregetan” dengan sikap Mak yang mempermalukan dirinya didepan teman-teman. Sedangkan Mak menangis kecewa karena adik saya yang paling bungsu adalah anak kesayangannya, anak yang paling lama ia manjain karena merupakan anak bungsa. Anak yang selama ini sangat dekat dan sering bercanda bahkan kepada adik inilah Mak belajar mengaji.

Tiba-tiba adik saya melawan dengan keras dan bahkan sempat membanting barang di dapur. Saya dan kakak perempuan (Farinah) pun menangis melihat keadaan tiba-tiba saat itu. Kami menangis karena melihat Mak menangis sedih, kami menangis karena kami rasa adik (Husnan) juga tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Kala itu hanya kami berempat di rumah, saya yang kebetulan pas pulang ke kampung.

Karena marahnya, Husnan berteriak keras dan saya ingat betul beberapa kalimat seperti menyindir saya. “Saya memang bukan anak yang punya pendidikan, yang kaya, yang kalau datang memberikan ini itu kepada Mak, terus Mak puji-puji. Saya memang malas, pengangguran dan nggak punya apa-apa buat nyenengin Mak. Saya bukan anak Mak yang hebat yang dibangga-banggakan itu…..”. Awalnya mendengar kalimat itu saya terbersit emosi juga, namun langsung berpikir bahwa kondisi ini sedang tidak sehat dan harus ada orang yang sehat untuk  menyelesaikannya dengan menjauhkan pikiran-pikiran pribadi.

 Saya pun berusaha menyelesaikan masalah agar tak berlarut lama dan membesar. Spontan saya pun langsung memeluk dan mencium Mak dan meminta adik untuk jangan keluar rumah sebelum masalah selesai. Kepada Mak yang duduk di ruang tengah dapur, saya katakan bahwa anak-anak Mak sudah besar, sangat sayang semua sama Mak. Tidak ada yang tidak sayang, tidak ada yang sebetulnya ingin melawan, tidak ada yang ingin menjadi anak durhaka. Saya peluk dan saya cium pipi dan kening Mak saat. Kakak perempuan (Farinah) yang ada di tempat, pun terus menangis. Kami menangis karena takut sekali mendapat “kutukan” Mak ditengah kekecewaannya terhadap anak.

Ya Allah….., mengapa anak-anak saya ini kalau sudah besar kok melawan orangtuanya?”. Mak duduk dilantai ruang dapur sambil menangis. Kakak perempuan saya juga ada di dapur dan saya pada posisi di ruang tengah. Sedangkan adik saya (Husnan) berada di ruang depan sambil juga menangis kecewa.

Mak, Husnan sudah besar, sudah dewasa, umurnya sudah 25 tahun, dia pasti punya rasa malu jika Mak marahin didepan kawan-kawannya dan menyebut berbagai hal tentang dirinya yang negative, tidak bekerja, malas dan segala kekurangannya. Mak tetap boleh marahin anak-anak bagaimana pun bentuknya, tapi saya minta jangan didepan teman-teman atau orang banyak. Karena anak-anak Mak pasti malu, termasuk saya. Mak nggak salah, Mak benar, Mak ingin semua anak-anak baik dan mendengar nasehat Mak. Hanya saja waktu yang kadangkala tidak tepat. Mak nggak perlu minta maaf kepada anak-anak, karena Mak tidak salah, tapi kami anak-anak yang salah karena wajib memahami Mak. Tapi Mak jangan sedih lagi, jangan benci dan dendam dengan perilaku anak-anak Mak, terutama saya yang Mak selalu katakan bandel dan nakal. Do’akan semua anak Mak, jadi anak baik semua, sukses semua dan khusus Husnan, agar dia bisa berbakti dan memberi yang terbaik kepada Mak, do’akan saat ini agar ia benar-benar sukses dan kaya”. Saya ingat betul, kurang lebih seperti itu yang saya omongkan dengan bahasa kampung yang saya terjemahkan ke bahasa Indonesia, seraya menangis dan memeluk Mak yang duduk di lantai ruang dapur.

Ditengah usapan air matanya, Mak mendengar apa yang saya katakan panjang lebar saat itu. Nurani seorang Mak tak kan terbuang untuk anak-anaknya. Ditengah tangisannya Mak berkata: “Ko ne imang Mak yang cerewet. Sering gaduh kek ikak. Ko minta maaf, ko yang salah”. Semakin kuat saya merengkuh tubuh Mak yang mulai menua dan semakin kuat pula saya dan kakak perempuan (Farinah) menangis. Saat mengingat kejadian dan menulis cerita ini pun saya tak kuasa menahan tangis.

Selanjutnya saya meminta adik saya meminta maaf kepada Mak dan ia melakukannya. Ditengah kondisi seperti itu, saya benar-benar mengagumi sosok Mak. Pertama, karena Mak justru berusaha minta maaf duluan. Kedua, Mak mendo’akan agar adik saya menjadi anak yang sukses.

Idul Adha beberapa minggu yang lalu, kami sekeluarga berkumpul di rumah adik saya yang paling bungsu ini. Saat melihat rumahnya yang berdiri tegak dan mewah serta peralatan rumahnya, saya bergumam dalam hati: “Ya Allah, ini adalah berkat do’a Mak dulu. Adik saya yang bukan siapa-siapa, bekerja serabutan dan berdagang keliling, tapi Alhamdulillah sukses. Ini semua berkah dari do’a Mak dan usaha adik saya yang berubah 180 derajat sebagai pekerja keras setelah berrumah tangga” sambil saya mengingat kejadian beberapa tahun silam.

***

            SOSOK Mak adalah malaikat yang berwujud manusia bagi seorang anak. Jangan pernah meremehkan setiap kata yang keluar dari mulut seorang Mak kepada anak-anaknya. Teruslah meminta do’a kepada Mak dalam suasana apapun. Do’a Mak adalah do’a yang paling mustajab, bahkan lebih mustajab dari do’a ulama sekalipun. Mak adalah jimat hidup yang harus menjadi pegangan kita selama ia masih hidup. Jangan pernah bosan meminta dido’akan Mak, karena Malaikat akan mengamininya.

Salam Mak!(*)

 

Bagikan.

Tentang Penulis

Komentar Anda