BANGKATIMES, PANGKALPINANG– Salah satu hal yang sangat positif dari masyarakat Bangka adalah berlomba-lomba menyekolahkan anak-anaknya di perantauan. Selanjutnya kekompakan dan kebersamaan mereka yang menuntut ilmu dengan membentuk organisasi lokal menjadi salah satu pengikat kebersamaan dan pelajaran penting dalam berorganisasi.

ISBA (Ikatan Mahasiswa Bangka) adalah organisasi yang tak asing lagi di bagi masyarakat Bangka. Walaupun organisasi ini tidak ada di Bangka, tapi ia adalah organisasi para mahasiswa Bangka yang berada di Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Malang, Solo, Bogor, Palembang dan lain-lain.

Sejak berdirinya ISBA (Ikatan Mahasiswa Bangka) pada 20 Maret tahun 1955 silam, belum pernah ada buku yang diterbitkan dalam mengenang sejarah dan perjalanan panjang para penuntut ilmu di yang berasal dari Pulau Bangka ke negeri orang. Padahal peran ISBA sangatlah besar bagi perkembangan Bangka Belitung dan hingga perjuangan pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Para alumni ISBA sebut saja, misalnya: Rusli Rachman, Supron Azhari, Eko Maulana Ali, Tarman Azzam, Zulkarnain Karim, Thabrani Alwi, Azhar Romli, Agus Tarmidzi, Sjahrum, Djamaluddin Ancok, Bustami Rahman, Tarmizi Saat, Erzaldi Rosman Djohan, Dharma Sutomo, Zikri Kisai, Justiar Noer, Parhan Ali, Soeradi Soehoed dan ratusan nama lainnya yang telah terbukti berkiprah bagi perkembangan Bangka Belitung.

Adalah H. Suplan Azhari, mantan Ketua Umum PB ISBA 1972 – 1974 yang menulis buku “ISBA dalam Pusaran Sejarah: Kisah Perantauan Bangka Menimba Ilmu dan Mengabdi Pada Negeri”. Pria kelahiran Desa Kemuja 4 Februari 1947 ini mengatakan bahwa keinginan besar menuliskan sejarah perjalanan ISBA karena didorong rasa kebanggaan terhadap organisasi para perantauan Bangka ini yang hingga kini masih tetap eksis. “Selain itu, keberadaan buku ini juga sebagai pendorong agar para pengurus dan alumni ISBA juga menulis tentang kiprah ISBA di Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Palembang dan lain-lain” ungkap alumni SMEA Negeri Pangkalpinang ini.

Dalam menuliskan buku ini, pria yang mengisi masa pensiunnya di Tasikmalaya Jawa Barat ini dibantu oleh keponakannya yang dikenal sebagai penulis buku, Ahmadi Sofyan. “Alhamdulillah, walaupun tidak didanai sama sekali alias pakai dana pribadi, tapi buku ini bisa terbit juga. Saya merasa sangat bahagia,” ungkap ayah dengan 3 orang anak ini.

Bertempat di Resto Umah Ubi Atok Kulop di kawasan Citraland Botanical City Pangkalpinang, Rabu, 11 April 2018 malam, buku ini pun diluncurkan dan dibedah. Adapun pembedah adalah para alumni ISBA, yaitu: Prof. Dr. Bustami Rahman dan Arka’a Ahmad Agin. Sekitar seratusan alumni ISBA berkumpul sambil bernostalgia.

Tampak hadir para alumni ISBA seperti: H. Supron Azhari, Thabrani Alwi, Sjahrildi Hormain, Zulkarnain Syamsuddin, Yan Megawandi, Ustadz Fadillah Sabri, Zamhari, Bambang Ari Satria, Elfandi, Adham Saftiar dan lain-lain.

20180411_200532_crop_900x600-01

Bustami Rahman mengatakan bahwa keberadaan buku ini sangatlah penting dan sangat patut diapresiasi. “Saya benar-benar bangga dan bahagia dengan keberadaan buku ini. Terus terang, dengan ditulisnya sejarah perjalanan ISBA menjadi bagian penting dari keberadaan dan perkembangan Bangka baik dimasa lalu hingga saat ini,” ungkap mantan Rektor Universitas Negeri Bangka Belitung ini.

Hal yang sama juga disampaikan pembicara lainnya, Arka’a Ahmad Agin. “Saya sendiri tak terpikirkan menulis buku seperti ini. Tentunya sangat penting keberadaannya dan patut diapresiasi. Saya salut dengan Bang Suplan yang mampu dan mau meluangkan waktunya untuk menulis sejarah ISBA. Semoga buku ini menjadi pemicu agar para pengurus dan alumni ISBA bisa menulis tentang kiprah ISBA ditempat masing-masing,” ungkap mantan Ketua ISBA Yogyakarta ini.

Peluncuran buku yang dipandu oleh Ahmadi Sofyan ini semakin semarak dengan diberinya ruang bernostalgia saling bercerita pengalaman selama aktif di ISBA. “Insya Allah, buku ini akan dibedah di ISBA Yogyakarta, Bandung, Jakarta dan juga mungkin di Palembang,” tutup Ahmadi Sofyan.

RELEASE

Bagikan.

Tentang Penulis

Komentar Anda