BANGKATIMES, PANGKALPINANG – Ada yang terasa istimewa di acara Masa Taaruf Kampus (MATAKA) Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah, Pangkalpinang. Acara yang dibuat untuk mahasiswa baru agar lebih mengenali kampusnya, mengundang pembicara tamu untuk memberi pembekalan keilmuan pada mereka.

Sabtu, 11 Agustus 2018, civitas akademika STKIP Muhammadiyah menghadirkan Ahmadi Sofyan. Dia adalah tokoh muda yang dikenal sebagai pemerhati sosial budaya di Bangka Belitung. Buah pemikirannya, secara terjadwal, rutin mewarnai halaman depan media cetak. Taring, demikian nama kolomnya di Harian Pagi Babel Pos.

Kepada para mahasiswa baru, Ahmadi kebagian topik ‘Berbangsa dan Berbudaya’, sebuah tema yang tepat dalam kondisi kekinian, terutama jelang peringatan usia republik ini yang sudah memasuki angka 73 tahun.

Dikatakannya, untuk memajukan sebuah bangsa, tidak lepas dari kekokohan budaya. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang kokoh budayanya. “Generasi muda adalah ujung tombak dalam masalah ini,” ujarnya.

Namun, laju perkembangan teknologi yang di satu sisi membantu mempercepat produktifitas berpikir seseorang, di sisi lainnya kemajuan teknologi dan perkembangan zaman membuat rapuh budaya kita sebagai bangsa Indonesia. “Tapi, dengan adanya pendidikan yang peduli budaya seperti STKIP Muhammadiyah Bangka Belitung, kita masih memiliki harapan ke depannya,” kata Ahmadi.

20180813_095009_crop_900x600-01

Menjawab pertanyaan salah seorang mahasiswa yang menangkap fenomena fitnah, hoax, saling menjatuhkan, ataupun nyinyir yang kerap terjadi media sosial, Ahmadi meminta generasi muda untuk tak ikut-ikutan terjebak dalam arus bernegatif, dan mengajak untuk berlaku positif di media sosial.

“Hal-hal negatif harus ditanggalkan. Nyinyir ke orang lain, tak membuat diri kita maju dan berkembang,” ujarnya.

Menariknya, Ahmadi Sofyan hadir ke STKIP Muhammadiyah hari itu, tak sendirian. Dia ditemani oleh Munir dan Fadhil, dua komedian yang ngetop di kalangan anak-anak muda di Bangka Belitung.

20180813_095304

“Adik-adik yg kuliah jangan sampai dak fokus kuliah. Di sinilah awal mula dari masa depan yang dicita-citakan,” kata Munir, dengan muatan kalimat yang bernada serius.

Tapi, bukan Munir namanya kalau tak bisa bercanda. Bahkan, dia pun peka dengan kampus keguruan yang akan memunculkan para pendidik di masa depan.

“Itu yang cikar, tunangku. Semoga adik mahasiswi yang cikar neh pacak mendidik anak-anak kite. Karena anakku pasti akan ikut pinter, nurun dari emak e neh,” canda Munir kepada salah seorang mahasiswi.

DONNY FAHRUM

Bagikan.

Tentang Penulis

Komentar Anda