Oleh : AHMADI SOFYAN (Penulis Buku / Pemerhati Sosial)

 

MAK-MAK di kampung adalah teladan kehidupan manusia modern dan perkotaan. Jujur, apa adanya, “dak banyak kenek” dan totalitas mendidik anak mendampingi suami. Disanalah mereka mendapatkan kemuliaan sebagai seorang Mak.

 PERAN seorang perempuan dalam kehidupan ini sangat tidak bisa diremehkan, dalam kondisi dan situasi apapun, perempuan memiliki peran penting dalam kehidupan manusia di muka bumi ini.

Seorang perempuan mulia memang tidak dilahirkan menjadi pemimpin, tapi ia melahirkan, mendidik dan mengarahkan sang pemimpin. Ia tak butuh pencitraan untuk dikenal apalagi mengenalkan diri, tapi ia dikenal hingga ke penghuni langit. Ia tak butuh jabatan untuk mengangkat kemuliaan dan menunjukkan kemampuan, tapi kemuliaan yang ia miliki justru dengan tidak ada jabatan serta memiliki segala kemampuan sebagai seorang ibu, suami dan pendidik terbaik.

Seorang perempuan mulia tak butuh popularitas untuk dianggap berkualitas, tapi kualitas dirinya adalah mendidik anak dan mengarahkan suami agar menjadi manusia dan pemimpin yang berkualitas. Ia tak butuh deretan titel didepan dan dibelakang namanya, tapi ia tak pernah berhenti memiliki pengetahuan dari universitas kehidupan. Seorang perempuan tak butuh pengaguman dari manusia, tapi ia berbuat dengan menjaga kehormatan dirinya akan diagungkan oleh penghuni langit.

Mak 16b

Dari sosok perempuan yang bernama Hj. Rastati Yahya, saya banyak belajar tentang kehidupan. Pendidikannya yang tidak tinggi, kehidupannya yang keras dan sederhana, ketangguhan dan kepiawaiannya mengelola keuangan keluarga ditengah kehidupan yang jauh dari kata mewah, ketegasannya dalam prinsip dan mendidik 10 orang anaknya, cerewet namun penuh tawa canda, lemah lembut dan halusnya kala anak-anaknya sakit, selalu terdepan kala anak-anaknya punya masalah, tak banyak menuntut kepada suaminya, tak pernah berhenti berucap do’a untuk anak-anaknya, lantas bagaimana saya tidak mengatakan bahwa perempuan tempat saya bermanja ini bukan perempuan inspiratif dalam kehidupan saya hingga saat ini.

Perempuan yang Tak Banyak Menuntut Materi

SUATU saat, saya diminta memberikan sambutan sekaligus hikmah pernikahan dalam sebuah acara perkawinan. Ada satu penekanan yang saya berikan kepada pengantin baru terkhusus pengantin perempuan, yakni tidak banyak menuntut dari suami, apalagi menuntut sesuatu diluar kemampuannya.

Dalam hal ini saya banyak belajar dari sosok Mak. Sebagai penulis, saya suka mengamati, menganalisa dan menilai dari banyak kata dan perilaku seseorang maupun sekelompok orang, organisasi maupun instansi. Sosok Mak bagi saya sangatlah menginspirasi, karena dibalik kelemahannya dalam pendidikan, pengalaman dan pengetahuan, namun apa yang ia lakukan adalah kecerdasan dan menyimpan nilai kearifan lokal sebagaimana Mak-Mak di kampung. So, jika hendak mencari inspirasi kehidupan, datanglah ke kampung-kampung di pelosok, lihatlah kehidupan para Mak, dengarkan tutur katanya, candanya dan segala keterbatasan yang mereka miliki ternyata memiliki arti dalam kehidupan kita ini. Mak-Mak di kampung adalah teladan kehidupan manusia modern dan perkotaan. Jujur, apa adanya, “dak banyak kenek” dan totalitas mendidik anak mendampingi suami. Begitu juga yang saya rasakan kala memperhatikan kehidupan Mak. Ia mendapatkan kemuliaan bukan hartanya, bukan keluasan ilmunya, bukan pula wajahnya, tidak juga jabatan dan popularitasnya, tapi kehadiran dirinya setiap saat bersama anak-anak dan ketaatannya kepada sang suami (Bak).

Seperti yang pernah saya ungkapkan dalam catatan sebelumnya, kami hidup tak bergelimangan harta, bahkan bisa dikatakan sangat sederhana sebagaimana mayoritas masyarakat di kampung kami (Kemuja). Bak yang sedari muda bergelut dengan keuangan masyarakat, ternyata tidak membuat Mak silau untuk menuntut ini dan itu. Puluhan tahun menjadi Bendahara Lembaga Kesejahteraan Desa (LKD) yang setiap minggu menyimpan/mengelola uang dari hasil karet desa yang ratusan bahkan ribuan hektar, menjadi bendahara Masjid Rahmatuddin bahkan tak jarang orang-orang secara pribadi mempercayakan Bak untuk menyimpan uang mereka dari hasil penjualan lada, tanah maupun hasil keuntungan para tauke karet. Di rumah seringkali kami bercanda antar saudara: “Di rumah ini kita bergelimangan uang, tapi bukan uang kita. Udah kayak bank saja.

Di rumah kami, tepatnya dalam kamar tidur Mak dan Bak, ada sebuah brangkas peninggalan kakek yang usianya sudah sangat tua. “Pukal besi” alias semuanya terbuat dari besi dan memiliki 3 lobang kunci dan hanya Bak yang bisa membukanya. Dulu, puluhan bahkan ratusan juta uang tersimpan di dalam peti antik ini. Seringkali kami menyebut rumah tua yang kami tinggali itu sebagai Bank dan Bak adalah sang “Direktur” sekaligus satu-satunya karyawan “Bank” tersebut. Karena satu-satunya yang berhak mendekati dan membuka brangkas tersebut hanyalah Bak. Setelah Bak kami larang untuk menjadi Bendahara dan menyimpan keuangan LKD, Masjid dan orang lain, barulah kami bisa melihat isi ke dalam brangkas itu.

Mak 16d

Di brankas tua yang ada di samping Bak inilah, menjadi tempat Bak menyimpan keuangan masjid dan masyarakat.

Brangkas antik itu sejak dahulu kala (sebelum Bapak lahir) sudah ada ditempatnya dan hingga kini masih ditempat yang sama alias tidak pernah dipindahkan. Di kamar tidur brangkas tersebut berdiri kokoh dan tak ada yang mampu menggoyahkannya. Maklumlah, rumah yang ditinggali oleh Bak dan Mak ini adalah warisan 3 turunan dan kami adalah turunan ke-4.

Dulu, kala masih kecil saya pernah melihat didalam peti ini tidak hanya uang kertas dan uang koin zaman dulu, tapi juga ada senjata berupa pistol, keris, batu berwarna biur, sedangkan pedang tersimpan dibawah tempat tidur. Tapi hingga kini tak tahu lagi dimana barang-barang tersebut berada. Hanya ratusan koin berwarna kuning tercatat tahun 1865 hingga 1945 dan kini dipercayakan oleh Bak untuk saya pegang.

Mak 16c

Sebagian koin receh masa sebelum kemerdekaan RI yang dipercayakan Bak untuk saya simpan.

Di dalam peti inilah, uang Masjid, uang LKD, uang orang tersimpan. Sedangkan uang Bak dan Mak tak pernah masuk ke dalam peti antik ini. Karena Mak menyimpan duit miliknya yang tak seberapa dibawah kasur tempat tidurnya atau ditabung didalam kaleng biskuit. Mak sangat “cerewet” dalam menasehati Bak agar menjaga keuangan masyarakat dan orang yang mempercayakan kepadanya. Kepada kami anak-anaknya, Mak berulangkali memberikan petuah kejujuran agar kami banyak belajar kepada Bak. Tapi sebagai seorang anak yang suka memperhatikan dan menganalisa, saya melihat justru Bak bertindak jujur tidak lepas dari peran Mak yang “dak banyek kenek” (tak banyak mau) alias tak banyak menuntut kepada Bak dalam hidupnya.

Oleh karenanya, walaupun hidup dengan berbalut kesederhanaan dan memiliki banyak anak, Mak tergolong bahagia dan ceria. Dari sini saya dapat menyimpulkan bahwa perempuan yang banyak menuntut akan banyak memiliki kekecewaan dalam hidup dan akan mengikis kebahagiaannya sendiri. Kalau ada seorang suami yang jujur, biasanya karena ada seorang perempuan yang bersahaja dan jauh lebih jujur di belakangnya.

Dulu, Mak seringkali hendak membeli kain atau perabotan dari pedagang yang berjualan dari Kota. Mak berbelanja menggunakan uang tabungannya sendiri. Kalau tidak, biasanya seringkali saya disuruh oleh Mak menanyakan kepada Bak dengan kalimat “Tanya Bak ka, ade duit dak? Ko nek meli kain/perabot” sambil Mak menyebut angka. Hanya itu yang saya saksikan bagaimana Mak menuntut kepada Bak selaku suaminya. Begitupula dengan Bak, tak banyak menuntut, misalnya dari hasil keduanya menyadap karet dan menjual kue, biasanya seluruh uang utuh disimpan oleh Mak. Tidak saling banyak menuntut antar suami-isteri dari kedua orangtua ini adalah pendidikan yang sangat besar dalam hidup saya.

***

HARI INI, 13 September 2017, tepat 25 hari Mak meninggalkan kami semua. Sosok yang tak kan mungkin dilupakan oleh anak-anaknya, keceriaan dan kata-katanya seringkali menjadi kerinduan tersendiri. Cerewet dan teriakannya ternyata menghasilkan anak-anak yang terdidik dan penuh tanggungjawab. Tawanya adalah kerinduan yang teramat sangat. Dikala rindu, mengingat senyuman Mak seringkali meluluhkan mata untuk meneteskan airnya.

Terima kasih Tuhan, telah Engkau hadirkan kami ke dunia ini melalui seorang perempuan kuat, tangguh dan hebat. Terima kasih Tuhan, karena kami memiliki orangtua yang sangat bertanggungjawab dan sangat sayang kepada kami anak-anaknya…..

Salam Mak!(*)

Bagikan.

Tentang Penulis

Komentar Anda