Oleh : AHMADI SOFYAN (Penulis Buku / Pemerhati Sosial)

 

KALAU orangtua kaya raya anak menjadi Raja, tapi kala anak kaya raya, seringkali orangtua dibuat seperti hamba sahaya (pembantu).

SUATU saat, saya nguping pembicaraan Mak dan Bak di dalam kamar. Keduanya sedang berbaring sambil ngobrol. Memang, sepengetahuan saya, Mak dan Bak memiliki kebiasaan ngobrol perkara serius di dalam kamar sambil keduanya berbaring.

Dalam obrolan itu, keduanya membicarakan perkara cita-cita yang terpendam puluhan tahun, yakni haji. Puluhan tahun mereka bekerja, menanam lada, menyadap karet dan sempat berjualan kue, anak-anak pun sudah selesai menempuh pendidikan tinggi, namun ternyata uang tak mencukupi untuk keduanya menunaikan ibadah haji.

Kayak e kita ne imang dak pacak aben naik haji. Usia lah tua macem ne, kita bekerja untuk anak-anak, sekarang anak-anak lah besak, lah selesai sekulah gale, kita yang dak mampu agik bekebun kek ngumpul duit untuk haji” Kurang lebih begitulah obrolan keduanya yang membuat saya diam-diam semakin serius menguping obrolan siang tersebut.

Sahang (lada) yang disimpan cukop dak kek naik haji sendirik?” tanya Mak kepada Bak. “Cukup kalau untuk sendirik” Bak menjawab. “Kalau macem tu, ka bae pun yang berangkat” Mak menawarkan. “Dak pacak bae, kita begawi selama ne sama-sama, jadi mun sikok berangkat sikok dak, dak adil. Kita berangkat atau dak, tetap sama-sama. Kalau cuma sikok yang berangkat, mending dak usahlah”” jawab Bak, yang membuat saya terkesima kala itu.

Mun macem tu, kita ne sampai mati dak berangkat haji. Badan lah tua, begawi lah dak kuat agik. Padahal besak harapan kita ne pacak naek haji, bekebun puluhan tahun berarep dikit-dikit ngumpul duit sapa tau pacak tekumpul naik haji. Tapi anak-anak lebih membutuhkan kek sekulah. Dak tau ngulah e,” tutup Mak yang membuat hati saya kian sedih nguping pembicaran keduanya.

Di kamar tidur inilah Mak dan Bak  sering diskusi berdua

Di kamar tidur inilah Mak dan Bak sering diskusi berdua.

Demi Allah, waktu itu ada perasaan memberontak dengan keadaan, perasaan bersalah karena saya tergolong anak yang sering minta dikirimin duit sewaktu merantau di Jawa Timur, bahkan Bak seringkali meminjam uang kepada paman karena tak punya uang demi memenuhi permintaan saya. Saya tergolong anak yang segala permintaan dipenuhi oleh Bak, tergolong anak yang keras kepala dan oleh Bak, saya ini cukup dimanja dibandingkan yang lainnya. Entahlah, saya merasa Bak sangat memanjakan saya sejak kecil dibandingkan adik bungsu atau kakak-kakak saya. Sampai sekarang pun, seringkali jika ada sesuatu hal, Bak lebih banyak membicarakan kepada saya. Setiap ada keputusan besar di tengah keluarga, Bak selau meminta saya memberikan keputusan.

Gara-gara menguping itulah, akhirnya dalam hati saya ber-nazar, “Ya Allah, kalau nanti saya ada rezeki, saya ingin membantu menghajikan orangtua saya”. Alhamdulillah, pada tahun 2009, setelah ngumpulin duit untuk pasca menikah, saya dan isteri hendak membeli tanah untuk kedepannya membuat rumah. Ketika hendak membayar tanah tersebut, ditengah rintik hujan, saya menyetir dan tiba-tiba teringat dengan wajah Mak dan Bak, teringat akan keinginan mereka naik haji, teringat akan nazar yang terbersit dalam hati beberapa tahun silam. Akhirnya secara sepihak saya putuskan untuk tidak membeli tanah tersebut setelah sampai dirumah pemilik tanah. Kepadanya saya sampaikan alasannya dan ia menerima.

Selanjutnya saya pulang ke rumah dan menyampaikan keputusan itu kepada isteri. Alhamdulillah, isteri pun ikhlas setelah saya jelaskan semuanya walaupun uang yang kita miliki hanya itu alias tak ada lagi yang lain. Selanjutnya dengan penuh rasa gembira, siang itu saya pulang kampung. Sampai di kampung, saya masuk kamar Mak dan Bak yang sedang berbaring. Kebetulan saat itu di rumah sedang sepi. Kepada keduanya saya tanya apa sudah makan? Lalu kami bertiga pun makan bersama-sama di dapur dan Mak menyiapkan makanan untuk kami nikmati bersama. Ditengah menikmati makan siang itu, saya bertanya tentang keinginan mereka berdua soal haji. Sambil tersenyum pahit, Bak mengatakan bahwa itu hanya sebatas keinginan tapi tak ada kemampuan untuk mencapainya. Mereka sudah ikhlas jika tidak mencapai keinginan tersebut. “Yang penting kita lah ade niat dan berusaha” tutup Bak kala itu seperti tak semangat.

Saya balik bertanya, apakah ada simpanan lada (sahang) untuk dijual?. Bak pun menjawab ada, tapi tidak banyak dan sangat tidak mencukupi. Untuk naik haji sendiri pun belum tentu mencukupi, apalagi berdua. Sambil menikmati makan siang hari itu, saya katakan kepada keduanya bahwa saya ada uang sedikit untuk tambahan daftar haji dan Mak dan Bak harus berangkat sama-sama. Lalu saya serahkan uang yang ada dalam tas. Spontan Bak menangis ditengah meja makan dan tak mengatakan kalimat apapun. Cukup lama kami bertiga diam dan sepertinya Mak dan Bak sedang berdo’a.

Wallahi, setiap teringat kenangan ini saya selalu menangis dan saat merangkai cerita ini, berulangkali saya tak mampu menahan tetesan air mata. Ketika menulis kenangan ini, berulangkali saya mengusap air mata karena benar-benar ingin sekali saya ulangi moment-moment tersebut. Saya ingat betul bagaimana wajah Mak dan Bak kala itu. Kepada mereka saya katakan ini uang halal dan insya Allah untuk tambahan Mak dan Bak naik haji.

Tidak menunggu lama, besoknya saya mengantarkan Bak dan Mak mendaftarkan haji. Akhirnya mereka pun  dapat nomor keberangkatan pada tahun 2014. Karena masih begitu lama, akhirnya Bak sempat berbicara serius kepada saya. “Kok masih lama sekali ya? Saya takut umur tidak sampai lagi, apalagi kesehatan saya sudah tidak bagus lagi”. Pada waktu itu Bak seringkali sakit-sakitan, sedangkan Mak masih sangat sehat.

Yang penting kita daftarkan dulu, urusan berangkat nanti kita berusaha dan berdo’a aja biar dipercepat” ungkap saya dengan penuh rasa percaya diri. Selanjutnya saya pun mendatangi Bupati Bangka, H. Yusroni Yazid guna meminta agar dibantu kedua orangtua saya bisa dipercepat keberangkatannya karena mengingat usia dan kesehatan. Namun Yusroni Yazid mengatakan tidak punya wewenang dan beliau langsung menemui kedua orangtua saya di Kemuja. Selanjutnya saya pun mendatangi Walikota Pangkalpinang, H. Zulkarnain Karim. Jawaban sama pun saya dapatkan, karena urusan keberangkatan haji tidak ada wewenang Kepala Daerah setingkat Bupati/Walikota.

Apa boleh buat, akhirnya hanya do’a yang terucap agar orangtua saya diberikan kesehatan dan dipanjangkan usianya sehingga bisa berangkat haji. Beberapa bulan kemudian, tiba-tiba saya mendapat telpon dari Kesra Provinsi Kep. Bangka Belitung, Pak Cholil. Karena sebelumnya saya sudah kenal (pernah ngontrak di rumahnya di Sungailiat), Pak Cholil kaget karena nomor handphone yang ada dalam daftar yang berangkat haji dipercepat (tahun 2010) adalah nomor saya. Kepada saya Pak Cholil bertanya: “Supian Azhari dan Rastati ini apanya kamu? Kok nomor handphone yang dihubungi dari nama keduanya ini adalah nomor kamu?” tanya Pak Cholil.

Kepada Pak Cholil, saya jelaskan bahwa itu orangtua kandung saya. Selanjutnya Pak Cholil menanyakan apa hubungan orangtua kandung saya, Supian Azhari dengan Supron Azhari, Suplan Azhari dan Supuan Azhari. Kepadanya saya jelaskan bahwa itu semua adalah paman saya dan bersaudara satu ayah satu ibu dengan Bak saya.

“Wah, kalau begitu sekalian aok, kita minta Bak ka jadi kepala rombongan kelak e”. lantas saya jawab: “Pak, Bapak saya berbeda dengan adik kakaknya. Pak Cholil jangan melihat Supron Azhari, Suplan Azhari dan Supuan Azhari, mereka memang orang berpendidikan dan punya pengalaman memimpin orang banyak dan wawasan yang luas, tapi Bak saya ini orang kampung dan tak seperti paman-paman saya. Saya kira jangan sampai beliau diberi amanah mengurus orang, usia dan pengalamannya tidak mumpuni”.

Pak Cholil pun memahami dan meminta kami mempersiapkan sesegera mungkin untuk keberangkatan orangtua saya berhaji. Selanjutnya beliau mengabarkan bahwa orangtua saya berangkat haji dipercepat yakni tahun 2010. Berita gembira tersebut saya sampaikan kepada orangtua dan sibuklah kita saat itu karena waktu sudah sangat mepet. Seluruh anak-anak Mak dan Bak saya hubungi dan saya wajibkan menyumbang uang (karena saya kala itu sudah tidak punya uang sama sekali) untuk pegangan Mak dan Bak saat berhaji. Alhamdulillah, seluruh anak menyumbang sesuai kemampuan masing-masing, termasuk paman-paman saya. Kepada Mak dan Bak saya katakan bahwa seluruh anak-anak-lah yang menghajikan keduanya.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kemudahan kepada Mak dan Bak berangkat haji. Pada tahun 2010, Bak dan Mak berangkat haji. Kondisi Bak di hari keberangkatan dalam keadaan gelugud (demam), begitu juga dengan saya. Dari Kemenag Wilayah Babel, saya turut mengantarkan keduanya. Saya merasa mendapatkan kemudahan mengantarkan orangtua kala itu. Bahkan melalui ruang VIP bandara Depati Amir Pangkalpinang, saya bisa masuk bersama para jema’ah haji lainnya. Padahal sebagai rombongan pengantar hanya mengantar sampai kantor Kemenag. Tak hanya lolos di ruang VIP bandara Depati Amir, saya pun ternyata langsung ke pesawat membawakan langsung tas Mak dan Bak untuk dimasukin ke bagasi pesawat. Di dalam pesawat saya masih sempat duduk dan ngobrol sama Mak dan Bak seraya memeluk dan mencium keduanya.

Mak 17b

Tiba-tiba oleh Pramugari dan Sekda Pangkalpinang, H. Hardi, yang turut mengantarkan jema’ah haji ke Palembang, saya diminta ikut saja ke Palembang. “Nggak apa-apa Pak, ikut saja, ada kursi kosong kok” kata Pramugari pesawat waktu itu karena masih ada kursi kosong didepan. Sekda Pangkalpinang pun meminta saya ikut saja dan nanti pulang bareng dia. Tapi karena kondisi saya pada waktu itu sedang gelugud (demam), jadi saya pun turun dari pesawat dan memutuskan untuk tidak ikut mengantarkan ke Palembang.

***

DARI kehidupan Mak dan Bak saya banyak belajar tentang keikhlasan dan berserah diri. Dari keduanya, saya belajar tentang kesetiaan dan kebahagiaan hakiki. Dari keduanya, terutama Mak saya banyak belajar tentang kesederhanaan dan ketangguhan hidup.

Salam Mak!(*)

(BERSAMBUNG)

Bagikan.

Tentang Penulis

Komentar Anda