Oleh : AHMADI SOFYAN (Penulis Buku / Pemerhati Sosial)

 

INSYA ALLAH, dengan keikhlasannya, setiap tetes keringat seorang Mak yang mencari nafkah kepada anak-anaknya akan dihitung sebagai amal ibadah yang berlipat ganda.

MEMILIKI seorang Mak yang pandai mengolah berbagai jenis makanan dan kue adalah keberkahan tersendiri bagi kami anak-anaknya. Karena kehidupan masa silamnya yang keras, berbalut kesederhanaan dan kemiskinan, Mak ditempa oleh alam dan lingkungannya untuk cerdas dalam mengolah berbagai macam jenis makanan dan kue.

Dulunya, Mak cukup populer di kampung sebagai pembuat/penjual kue. Pekerjaan ini dilakoni oleh keluarga kami selama bertahun-tahun. Dari menjual kue inilah Mak bisa sedikit menabung selain menyadap karet dan sedikit berkebun lada (sahang). Nyaris tak ada waktu istirahat kecuali tengah malam. Mak dan Bak bagi saya adalah sosok orangtua yang sangat bertanggungjawab terhadap semua anak-anaknya. Walaupun hidup dalam kesederhanaan, namun 10 orang anaknya dapat menempuh pendidikan yang layak.

 Menjajakan kue keliling kampung, keluar masuk gang, adalah rutinitas saya dan 2 keponakan saya kala itu, Subhan dan Supriyadi. Selain itu, pesanan kue pun bertambah kala ada haflah Pondok Pesantren Al-Islam Kemuja. Mak sangat semangat jika ada pesanan kue yang banyak, walaupun harus kerja ekstra.

Mak 18b

Soal masakan dan urusan dapur, Mak cukup cerewet, terutama kepada anak-anak perempuannya. Menurut Mak, anak perempuan wajib hukumnya pandai memasak. Oleh Mak, anak-anak perempuannya dipersiapkan untuk menjadi ibu yang paham berbagai urusan rumah tangga sebagaimana dirinya. Kepada anak perempuan, Mak lebih cerewet dan jauh lebih tegas dalam mendidik. Jangan heran jika rumah, terutama dapur penuh dengan suara Mak. Begitu juga pagi hari saat Subuh, suara Mak pasti sudah menggelegar membangunkan anak perempuannya.

Sebagai keluarga besar, tentunya Mak harus pandai mengolah makanan agar cukup dan dapat dinikmati semuanya. Tapi masalah menu, Mak sangat otoriter soal menu makanan di rumah. Hari ini masak apa, semuanya tergantung dengan keinginan Mak. Seluruh anak tak bisa menolak atau protes, paling demokrasi ya Mak bertanya kepada Bak (Bapak) mengenai menu apa hari ini. Tapi yang namanya Bak, tidak pernah cerewet apalagi meminta. Apa yang ada di meja makan, itulah yang dilahap dan ia nikmati. Tak pernah protes bahkan tak pernah mengajukan makanan apa yang ia inginkan.

Oya, beruntungnya anak-anak Mak dan Bak juga tidak cerewet soal menu makanan, bahkan nyaris kami tidak pernah protes soal makanan yang disiapkan. Kenapa kala itu kami tidak cerewet? Pastinya karena tidak ada pilihan lain dan kalau tidak menikmati itu pasti lapar.

Tapi, ternyata saya tergolong satu-satunya anak yang cerewet soal makanan dan menjadi “perhatian khusus” oleh Mak. Seringkali kakak-kakak perempuan saya menggerutu hanya karena soal makanan khusus buat saya, yakni makanan atau lempah yang tidak boleh terlihat bawang.

 Ya, saya sejak kecil sangat anti makanan yang terlihat bawang dan juga makanan sejenis semur. Bawang bagi saya adalah salah satu makanan yang sangat menakutkan dan menjijikkan. Oleh karenanya seringkali Mak dan kakak-kakak perempuan saya memasak sendiri terkhusus untuk saya. Tak hanya kakak-kakak perempuan saya, dalam hal ini Mak seringkali menggerutu dengan kalimat “dasar anak betuah”. Tapi ada baiknya juga buat kakak-kakak saya, yakni saat membeli bakso dan dimakan bersama, mereka meletakkan bawang goreng yang banyak didalam bakso, jadilah saya tidak berani makan dan menangis. Tapi, lagi-lagi saya menang, karena ternyata Bak cukup bijak dan memanjakan saya dengan membelikan bakso sendiri untuk saya tanpa bawang. Lagi-lagi yang menggerutu dan menyebut dengan koor yang sama, yakni “anak betuah”.

Mak 18c

Kebahagiaan Mak saat menikmati makanan di ruang tengah sambil saya potret.

Di meja makan, semua makanan (lauk pauk) anak-anak sudah dijatah, tak bisa menambah untuk lauk, kecuali kuahnya. Sedangkan nasi masih bebas selama persediaan masa ada dan mencukupi. Untuk Bak dan Mak lauk pauknya didalam mangkok tersendiri dan jatahnya lebih banyak. Nah, dalam hal ini lagi-lagi saya agak nakal, seringkali makan di antara Mak dan Bak. Karena saya tahu, Bak adalah orang yang bijak, jatahnya saya minta dibagikan pastilah dikasih, bahkan kadangkala ia sendiri menyodorkan tanpa saya minta. Tinggallah mata Mak dan saudara-saudara saya melotot melihat “kenakalan” saya di meja makan. Mereka tak pernah menyadari, bahwa sejak dulu saya punya prinsip simpel, “posisi tempat duduk menentukan kualitas dan jumlah makanan yang kau makan”. Ah, kalau teringat kenangan ini, saya jadi

Puasa tidak puasa, tetap puasa!

DULU, ada satu aturan tak tertulis di rumah kami di bulan puasa, yakni semua penghuni rumah harus “puasa” selama bulan Ramadhan. Maksudnya, yang berhalangan atau yang memang sedang tidak puasa, tetap merasakan puasa karena pasti tidak ada makanan sejak siang hingga maghrib tiba.

Lucunya, di rumah kami, bagi yang tidak puasa pasti menderita. Penderitaan pertama adalah semua pekerjaan yang berat diserahkan kepada yang tidak puasa. Kedua, jangan sampai tidur siang, bisa diamuk karena tidak puasa. Ketiga, tidak akan pernah ada makanan yang tersedia untuk di makan. Keempat, tidak dibolehkan makan bersama (ikut menikmati makanan berbuka puasa) bersama orang-orang yang berpuasa. Ini yang sangat menyakitkan, yakni makanan yang dimakan oleh yang tidak puasa adalah sisa makanan dari orang-orang yang berpuasa.

Nah, karena suasana dan “penderitaan” bagi yang tidak puasa seperti itu, tentunya jauh lebih baik berpuasa daripada mengumpulkan banyak derita. Sampai-sampai kakak perempuan saya yang halangan berpuasa, pun sering nyeletuk “along puasa agik, daripada dak puasa. Soal e sama-sama dak makan bahkan lebih dak makan dari orang yang dak puasa”. Ketika semuanya sudah berkeluarga, kala berkumpul, kami seringkali mengenang peristiwa ini dan pun tertawa ngakak jika bercerita soal suasana bulan puasa.

Suasana bulan Ramadhan adalah suasana yang paling menyenangkan di kampung. Suasananya jauh berbeda, apalagi menjelang maghrib dan malam hari hingga menjelang sahur. Lucunya dulu kami sahur jam 12 malam atau paling lambat jam 1. Hal ini dilakukan karena dulu PLN belum masuk ke kampung kami, jadi listrik masih menggunakan mesin di kampung yang hidup pas jam 1 untuk sahur. Terlambat bangun dikit saja, bersiaplah sahur dalam keadaan gelap gulita.

Suasana puasa di kampung membuat saya teringat akan Mak. Bagaimana sibuknya Mak membuat menu berbuka puasa dan membangunkan kami dengan teriakannya melebihi beduk sahur dari Masjid. Mengingatkan saya bagaimana Mak meminta saya tiap malam tadarrus di Masjid atau menanyakan jadwal kapan saya memberikan ceramah sebelum berbuka puasa yang memang terjadwal di Masjid setiap hari secara bergantian oleh Remaja Masjid.

Suasana puasa juga mengingatkan saya bagaimana sosok Mak yang begitu lucu menentukan makanan berbuka puasa sesuai dengan seleranya. Tinggallah kami anak-anak yang kadangkala tak sesuai selera hanya menggerutu dan berdo’a semoga ada antaran menu dari kakak perempuan saya yang sudah berkeluarga, yang rutin mengantar menu berbuka puasa setiap menjelang berbuka ke rumah kami. Biasanya jauh lebih sesuai dengan selera kita anak-anak, namun sayangnya jumlahnya tidak mencukupi karena konsumennya terlalu banyak ketimbang makanan yang ada. Tapi, disinilah lucunya, Mak selalu membuat suasana ceria dan ngangenin……

Salam Mak!(*)

(BERSAMBUNG)

Bagikan.

Tentang Penulis

Komentar Anda