Oleh: Donny Fahrum

MINGGU jelang siang, di akhir pekan lalu, sebuah medali dipamerkan kawan saya Anandoz Bangsawan di akun instagramnya. Bentuknya keren. Itu ganjaran atas sukses menembus batas waktu Borobudur Marathon 2018 yang barusan diikutinya.

Melihat rentang waktunya yang segera, saya sangat yakin kalau beliau begitu finish, sudah begitu eager untuk memberitahukan segera. Ke keluarga. Ke khalayak pertemanan. Ke followers. Sesuatu perasaan yang wajar di era sekarang.

Saya pun menyapa di postingan Instagram-nya. “Wuiih medalinya cakep.” Kawan ini membalas: “Larinya lelah boi.” Boi sapaan akrab khas ala kami di masa-masa ABG zaman dulu, di Bangka.

Kawan saya, wajar berbangga. Sebab memiliki medali itu bukan tanpa usaha. Perlu kerja keras berpadu dengan kekuatan mengatur ritme di sepanjang perjalanan yang ditempuh. Medali adalah imbalan atas rasa lelah yang telah berhasil dikalahkannya.

Karenanya, berhasil menjadi finishers jelas sebuah kebahagiaan. Ditambah ada aturan yang keras tentang cut of time -peserta yang tak bisa menembus waktu di KM tertentu- bisa langsung ditarik keluar lintasan oleh panitia. Aturan lebih galak. Tapi justru di situlah letak pride-nya.

Apalagi keesokan harinya, nama kawan saya tersebut hadir di lembaran KOMPAS beberapa halaman penuh, yang berisi daftar nama finishers seluruh kategori. Lengkap dengan catatan waktunya. Tambah keren.

Akhir-akhir ini olahraga lari memang terus naik daun. Popularitasnya kian moncer. Eventnya diburu. Menekuninya menjadi sebuah gaya hidup. Ada semacam simbol status kekerenan di sana. Semacam cool jenis baru.

Gaya hidup, kebersamaan, pride, tembus limit, dan lain-lain, menjadi standar yang kini mengasosiasikan olahraga ini.

Bahkan, pelan-pelan sebagai simbol kekerenan, lari mulai menenggelamkan olahraga golf. Golf yang sejak dulu adalah simbol prestis, keren, cool, kini sinar kerennya kalah benderang dibanding lari. Tak banyak anak muda yang mau menekuni olahraga warisan generasi baby boomers itu. Nggak percaya? Periksa saja Lapangan Girimaya di Pangkalpinang, lebih banyak anak muda yang berlari atau yang bermain golf di sana? Tapi eiitts… jangan abaikan ukuran kantong mereka, karena dari jenis pekerjaan mereka, anak-anak muda yang berlari itu, mampu untuk membeli stik yang harganya lumayan. Tapi mereka lebih milih berlari.

Nah, terkait olahraga lari ini, kita mendapati sebuah pilihan tepat ketika lari dijadikan salah satu cara untuk mempromosikan kawasan Pantai Timur Bangka. Yang belum tahu kawasan Pantai Timur Bangka, itu adalah kawasan sekitar Puri Tri Agung, Pantai Tikus Emas, Tanjung Pesona dan sekitarnya. Area yang dikerjakan serius oleh anak muda Bambang Patijaya dkk bersama pemerintah daerah, menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata. Nanti, bersama Tanjung Gunung di Bangka Tengah, akan ada 2 KEK pariwisata di pulau Bangka. Menyusul Tanjung Kelayang di Belitung yang sudah terlebih dahulu ditetapkan.

Nah, di event lari yang disebut sebagai Trail Run itu, peserta akan disuguhi pemandangan laut, dan perbukitan yang indah di sepanjang kawasan Pantai Timur Bangka.

Karena itu, di tengah kian moncernya popularitas olahraga lari, menjadi prospek bagi hadirnya banyak peserta. Pengalaman mereka melintasi area yang dilalui, akan menjadi kisah yang menghiasi akun-akun media sosialnya. Diprediksi event Trail Run pada 2 Desember 2018 mendatang, akan banyak menarik minat peserta.

Bila sepi peminat, mungkin sebabnya hanya satu ini: karena teknik marketingnya yang keliru. Semoga ramai!

=========================

Sumber foto: smithrock.com

Bagikan.

Tentang Penulis

Komentar Anda