BANGKATIMES, Pangkalpinang – Pembatasan pada beberapa eksportir timah olahan memberi imbas turun drastisnya angka penjualan. Bulan November 2018 tercatat sebagai bulan terendah ekspor timah batangan sepanjang tahun 2018 ini.

Hal ini terungkap dari data yang disampaikan Sekretaris Jenderal Asosiasi Eksportir Timah Indonesia (AETI) Jabin Sufianto, dalam paparan materi presentasinya di depan peserta Indonesia Tin Conference & Exhibithion (ITCE), 26 November 2018, di Jakarta. Acara ini digelar oleh Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX).

Di bulan November 2018 yang hanya menyisakan beberapa hari lagi, jumlah ekspor timah batangan hanya sebesar 2.150 metrik ton. Jumlah ini hanya separuh dari total ekspor bulan Oktober 2018 yang sebanyak 5.079 metrik ton.

Bila dibandingkan dengan periode bulan September 2018 yang sebesar 8.679 metrik ton, grafik ekspor terus merosot. Bahkan jauh dari jumlah ekspor tertinggi di bulan Mei 2018 yang tercatat sebesar 12.479 metrik ton.

Jabin mengakui fakta kalau penurunan ekspor ini imbas dari terhentinya kegiatan ekspor dari beberapa eksportir. ICDX menghentikan perdagangan pada pertengahan Oktober dari timah batangan dan bijih timah yang asalnya diverifikasi oleh PT Surveyor Indonesia menyusul laporan polisi yang berkaitan dengan penjualan mineral dari sumber tanpa izin.

Selain Jabin, turut berbicara Analis Logam dan Ekuitas DBS Bank Eun Yong Lee, dan Chief Excecutive Officer Lamon Rutten.

Sayangnya, pagelaran ITCE tanpa menyertakan pewarta dari Bangka Belitung, tempat timah batangan itu berasal.

“Sebenarnya plan ITCE 2018 ada schedule ke Bangka tetapi ada perubahan mendadak sehingga di laksanakan di Jakarta,” kata Omegawati, dari ICDX, ketika membagikan via pesan WhatsApp, bahan presentasi dari para pembicara.

DONNY FAHRUM

Bagikan.

Tentang Penulis

Komentar Anda