Oleh : AHMADI SOFYAN (Penulis Buku / Pemerhati Sosial)

MASAKAN paling enak di dunia ini adalah masakan yang diolah dari tangan Mak. Bahkan kadangkala tetesan keringatnya jatuh ke dalam masakan. Nikmatnya menjadi luar biasa karena dibalut oleh keikhlasan demi anak-anak dan kesetiaan untuk suami tercinta. Berbahagialah bagi Anda yang masih memiliki Mak, apalagi yang pandai mengolah makanan ditengah kesederhanaan.

HARI INI, Kamis, 28 September 2017, tepat 40 hari kepergian Mak, meninggalkan sang suami tercinta, anak cucu dan cicit-cicitnya serta orang-orang yang dicintai dan mencintai dirinya. Mak memang telah pergi meninggalkan kami, tapi ia selalu ada bersama do’a dan rasa cinta serta kasih sayang yang tak kan pudar.

Kenangan tentang Mak sepertinya tak pernah tamat untuk dikisahkan sebagai bentuk kebahagiaan dan kebanggaan saya pribadi memiliki seorang Mak yang tak berpendidikan tinggi, tak banyak tahu soal kehidupan modern, cerewet, memiliki semangat hidup yang tinggi, tak pernah berhenti mendo’akan anak-anaknya dan satu kelebihan Mak dibalik kelebihan yang lain adalah pandai mengolah makanan dan kue. Mak termasuk sosok wanita yang telaten dan penuh inovasi di dapur.

Berbicara soal makanan, selain pandai memasak dan membuat kue, Mak adalah penikmat makanan. Nyaris apa saja yang ada di meja ingin dicoba selama halal. Mak cenderung kurang peduli dengan kesehatan walau dalam usianya sudah harus memilih dan memilah makanan. Sebagai penikmat makanan tanpa pantangan inilah salah satu penyakit darah tinggi menyerang Mak pada tahun 2010. Apalagi Mak cenderung jarang sakit dan tak pernah opname atau sakit parah sebelumnya.

mak 19b

Mak kala menjalani ‘rawat jalan’ di rumah, dan dijaga menantunya (Devy Restu Etikasari) dan anak ketujuh (Farinah).

Bagi kami orang kampung, tak kan pernah memeriksa diri (check up) ke dokter kalau belum sakit. Kalau sakit biasanya cukup beli obat di toko tetangga atau apotik. Karena umumnya penyakit yang diderita hanya “gelugud” atau demam.

Sebagai sesama penikmat makanan, saya dan Mak nyaris sama. Selama makanan lokal, rasa-rasanya lidah saya dan lidah Mak nyaris tak berbeda, alias segala makanan lokal kami nikmati. Sebagaimana saya, Mak juga penggemar lempah kuning, makanan bersantan, seafood (ah, Mak tak paham bahasa “seafood”, yang dia tahu ikan laut atau makanan laut). Sedangkan kue, Mak sangat gemar menikmati kue yang manis-manis, hobi membuat kue apem dan kue tem ubi. Dulu kalau bulan Ramadhan, Mak sering bikin bubur cacak dan rujak bihun. Kesemuanya itu adalah kesukaan saya juga.

Saat sakit pun Mak tak mau dilarang menikmati makanan yang tidak dibolehkan demi kesehatannya. Kalau ini dilakukan, Mak pasti menangis dan menginginkan makanan yang menjadi seleranya. Mak juga susah minum obat, jarang sekali obat yang ada tak pernah habis diminum karena berbagai alasan, seperti: “pahit-lah”, “nggak enak-lah”, “bikin pusing kepala setelah minum obat-lah”, “rasanya lain-lah” dan berbagai alasan lainnya. Kala bertahun-tahun menderita sakit dan hanya beraktivitas di atas tempat tidur, Mak tetaplah susah untuk minum obat. Inilah yang kadangkala ada perasaan kesal juga untuk memberikan obat kepada Mak, karena nyaris hanya diminum sekali atau dua kali saja, selanjutnya Mak menolak keras. Beberapa kali saya memberikan obat dari luar sebagai ikhtiar, namun Mak tetap tak bergeming untuk minum sampai habis.

Soal makanan Mak sangat cerewet soal harga, maklumlah, kehidupan sederhana dan anak banyak, membuat Mak harus pandai mengelola keuangan keluarga. Misalnya, Mak beselera mau masak (ngelempah) ikan tenggiri, tapi harganya terlalu tinggi, terpaksalah Mak cukup membeli ikan Mayong atau ikan ciw dan jenis ikan-ikan yang harganya lebih rendah. Oleh karenanya Mak memanfaatkan lahan kebun untuk ditanami bahan-bahan yang bisa dimasak. Masakan rebung, kates (papaya), kulat kukur, daun ubi, nangka dan sebagainya adalah menu masakan Mak yang berasal dari kebun sendiri.

Untuk ikan, Mak sangat suka makan ikan sungai seperti kelik (lele), baung, uyep (udang sungai), delek (gabus), kiyong, tapah dan sebagainya. Oleh karenanya Mak sangat senang jika melihat saya pulang mancing, ngerawai atau nanggok membawa ikan-ikan hasil dari sungai. Senyum Mak sangat lebar, bahkan kalau sedang marah pun, Mak spontan reda dan berubah senyuman lebar jika sudah melihat ikan sungai hasil pancingan atau ngerawai anaknya.

Walaupun tidak sering, beberapa kali saya mengajak Mak dan Bak makan bareng di restoran di Pangkalpinang. Setelah makan dan membayar, Mak pasti menanyakan berapa harga seluruh makanan yang dimakan. Jika saya menyebut harganya, Mak pasti berkomentar keras. “Gile mahal e, pacak makan seminggu mun di rumah”. Kalau sudah begitu, saya dan isteri biasanya tersenyum nyengir. Kalau sudah begitu, Mak biasanya kasih nasehat: “Ikak nek pacak-pacak ngatur duit, jen boros igak. Mun tengah ade jen merawak, mun tengah dak de nek pacak nahan”. Kalau sudah dinasehatin biasanya kita kasih tahu bahwa tidak tiap hari bahkan sebulan sekali belum tentu kita makan di restoran. Hanya sesekali saja buat merubah menu sambil kumpul-kumpul. Kalau sudah begitu Mak kembali ngasih nasehat: “Aok, jen gati igak, mati kek ngesac duit e”.

Nasehat Mak ini bukan apa-apa, tapi karena Mak merasakan bagaimana susahnya berjuang dalam hidup yang ia alami. Mak cenderung sangat berhati-hati menggunakan uang. Memiliki anak yang banyak dibutuhkan kejelian dan kecermatan dalam mengatur keuangan keluarga.

Konsep ABA, Ekonomi Keluarga Sederhana

BEBERAPA hari yang lalu, saya bertandang ke rumah di kampung. Sepi, sunyi dan seperti sebuah istana yang ditinggalkan oleh “sang raja”. Di rumah hanya ada Bak, kakak perempuan saya yang bernama Farinah dan suami beserta anaknya yang berusia 3,5 tahun bernama Fayed. Farinah adalah osok kakak yang paling setia mengurusi kedua orangtua kami, sosok kakak yang paling saya banggakan. Wallahi, untuk kakak saya yang satu ini benar-benar saya spesialkan dari saudara yang lain. Saya tak bermaksud membedakan, tapi bathin saya tidak bisa berkata bohong bahwa dia adalah anak Mak yang paling membanggakan di mata saya. Untuk kebaikan, kesetiaan dan keikhlasan dalam mengurus Mak, tidak ada anak-anak yang melebihi dirinya, apalagi saya.

Farinah, sejak hari pertama Mak meninggal dunia, entah mengapa bathin saya mengatakan inilah sesungguhnya sosok anak kebanggaan Mak dan Bak. Setelah Mak dimandikan, sebelum dikafani, saya dan isteri mencium kening dan kaki Mak untuk terakhir kalinya. Disaat itulah, entah mengapa tiba-tiba saya ingin memeluk 2 orang kakak perempuan saya yaitu Farinah dan Fitriani karena merasa ada aura Mak yang sangat kental dari diri mereka berdua, terutama Farinah. Kepadanya kedua kakak perempuan saya ini, sambil menangis tersedu saya bisikin: “Ikak (kalian) anak terbaik Mak, terima kasih telah mengurus Mak hingga sepanjang hayatnya, 24 jam kalian bersama Mak”. Kepada Farinah, terucap dalam bathin saya kala itu, ya Allah saya tidak akan rela ia hidup menderita atau susah, karena dia-lah sosok yang benar-benar mengurus Mak 24 jam selama bertahun-tahun hingga Mak menghembuskan nafas terakhir.

Saya bangga dengan kakak saya Farinah. Hampir setiap kali saya mengingat kebaikan dan kesetiaannya di rumah bersama orangtua, diam-diam saya meneteskan air mata kebahagiaan, air mata yang diiringi do’a terucap dalam bathin. Farinah adalah satu-satunya saudara yang sering saya do’akan agar ia hidup bahagia walau tak bergelimang harta dibandingkan saudara-saudara yang lain. Sekali lagi, inilah kakak yang sangat membanggakan saya walaupun dulu semasa kecil dia adalah “musuh” terbesar saya karena paling sering marahain dan cerewet. Saat merangkai kata-kata ini pun, tetesan air mata saya bergulir, mengingat wajah lugu sang kakak tercinta, Farinah. Sosok suadara kandung saya yang paling saya banggakan semenjak Mak meninggal dunia. Ada rasa dalam bathin bahwa dirinya-lah yang terbaik diantara kami-kami ini.

Oya, kala lagi ngobrol di dapur (tempat paling favorite keluarga besar kami) beberapa hari lalu, Farinah tiba-tiba mengingat tentang nasehat Mak. “Ada 3 hal yang Mak selalu ingatkan kepada kita soal ekonomi keluarga. Di rumah tak boleh kehabisan tiga barang, kalau salah satu dari ketiga ini tidak ada, maka alamat sengsara, yaitu Air, Beras dan Api (Kayu Bakar)”.

Ya, saya sering mendengar petuah ini dari mulut Mak. Ketiga barang ini benar-benar membuat Mak menjadi cerewet di dapur, terutama kepada anak-anak perempuannya. Ketiga benda ini memang tak pernah putus di rumah, ABA (Air, Beras dan Api). Kelihatan sangat sederhana, tapi inilah salah satu solusi terbaik Mak bagi keluarga sederhana kami. Makan boleh tak berlauk, yang penting ada nasi yang bisa diolah walau berlaukkan garam atau sambal. Untuk memasak nasi harus ada air bersih dan kayu bakar (karena dulu kami tak punya kompor) untuk memasaknya.

Dulu kami tak punya kompor, oleh karenanya kayu bakar adalah andalan utama kami dalam memasak di dapur. Setiap pulang kebun, Mak dan anak-anaknya wajib memikul kayu bakar. Begitupula dengan air, karena tak ada sumur di rumah apalagi mesin air, sehingga setiap hari kewajiban anak-anak adalah mengangkut air dari sungai atau sumur umum. Emosi Mak akan memuncak kepada anak-anaknya kalau kedua benda seperti air dan kayu bakar menipis. Sedangkan beras menjadi tanggungjawab Bak (Bapak dan Mak).

***

MAK memang telah tiada, tapi ia akan selalu hidup bersama petuah dan nasehatnya dalam kehidupan kami anak-anaknya. Mak memang telah berakhir hidup bersama kami di dunia ini, tapi do’a dari anak-anaknya insya Allah adalah kehidupan yang selalu ada bersama di alam barzah. Mak selalu ada walau jasadnya terkubur tanah.

mak 19a

Doa selalu ada untuk Mak.

Selamat jalan Mak. Hari ini, kamis, 28 September 2017 adalah persis 40 hari kami kepergian Mak. Insya Allah do’a dan tahlilan akan terus kami lakukan untuk Mak….

Salam Mak! (*)

Bagikan.

Tentang Penulis

Komentar Anda