BANGKATIMES.com, Pangkalpinang – Sibli terkesima. Matanya menatap lekat-lekat dan memperhatikan seksama tiap penampilan Idang Rasjidi, Fariz RM, Mus Mujiono dan para musisi Idang Rasjidi Syndicates diatas panggung. Pula, telinganya menyimak penjelasan demi penjelasan yang disampaikan para maestro di jazz clinic pada Jumat, 29 Desember 2017 sore, di Teras Nusantara, Citraland Botanical City.

“Ada banyak ilmu yang saya dapat. Ini luar biasa bagi saya, sebagai sesuatu yang baru di Babel. Benar-benar saya berasa dapat banget ilmunya,” ujar gitaris Filosofi Band tersebut.

Jazz Clinic adalah satu rangkaian dari penyelenggaraan event spektakuler Jazz on the Bridge 2017, yang dilangsungkan di Pantai Koala, Kawasan Jembatan EMAS, yang menghubungkan Kota Pangkalpinang dengan Kabupaten bangka.

Idang Rasjidi mengatakan, sebagai pemusik adalah menjadi kewajiban dan tanggung jawab moralnya untuk membagikan ilmu bermusik kepada anak-anak muda di tiap lokasi konsernya berada. “Saya sering sedih. Di banyak konser band-band hebat, tapi anak-anak muda kita cuma menonton. Karena itu, di saat saya konser sebisanya saya akan meninggalkan sesuatu yang bermakna bagi anak-anak muda musikus setempat. Melalui jazz clinic seperti ini,” kata Idang, yang adalah putra kelahiran Pulau Bangka.

Mengenai penyelenggaraan Jazz on the Bridge, Idang mengatakan event ini merupakan tahap akhir dari sebuah awal yang sedang dimulai. Dari sebuah event dengan satu panggung, dapat menjadi sebuah festival musik dengan banyak panggung, banyak musisi di masa yang akan datang. “Saya mengapresiasi kepada kerja Nico, Boy, Donny, dan Ahmadi. Mereka anak-anak muda yang mau bekerjakeras dalam mewujudkan cita-cita majunya panggung musik di Bangka Belitung,” ujarnya.

Karenanya, lanjut Idang, setelah pagelaran Jazz on the Bridge berakhir, praktis panitia hanya mempunyai waktu istirahat satu bulan saja. “Setelahnya, kita sudah harus bekerja untuk agenda di tahun 2018. Panggung jazz on the Bridge adalah point of no return (titik untuk tidak bisa kembali -red). Ini harus bergerak semakin baik dan sempurna. Masalahnya, tinggal mau atau tidak. Dan, saat ini anak-anak muda Bangka harus bisa katakan: ‘Kite Pacak’,” tegasnya.

Jazz on the Bridge memang diproyeksikan untuk menjadi panggung jazz dunia di masa-masa mendatang. “Gabungan antara pantai da jembatan menjadi keunikan dari Jazz on the Bridge,” kata Nico Alpiandy, ketua Panitia Jazz on the Bridge 2017.

Di saat sesi Jazz Clinic yang juga sekaligus press conference, Idang juga menyampaikan terimakasihnya atas kesediaan Fariz RM, Mus Mujiono, dan Tompi untik hadir mengisi panggung Jazz on the Bridge. “Mereka adalah teman-teman sejati. Mereka mau datang ke sini, tidak perlu ada uang sama sekali,” tukasnya.

jazz clinic1

Bagi Fariz RM, ini adalah kedatangannya untuk kali kedua ke Bangka. “Saya dan Idang sama-sama kenal baik dari dulu,” ujarnya.

Adapun Mus Mujiono, mengatakan dirinya berharap Jazz on the Bridge akan terus semakin besar dan berkembang. “Ini tolong didukung semua kalangan,” katanya.

jzz clinic 2

Tompi, penampil lainnya di panggung Jazz on the Bridge, baru akan tiba pada Sabtu, 30 Desember 2017.

RELEASE

Bagikan.

Tentang Penulis

Komentar Anda