Artikel Opini
Oleh: Evan Dwi Okta (Ketua Bidang Kaderisasi PC IMM Buya Safi’i Ma’arif)
Di tengah perubahan zaman yang bergerak begitu cepat, Generasi Z hadir dengan karakter yang khas: adaptif terhadap teknologi, kritis dalam berpikir, kreatif dalam berkarya, dan memiliki keberanian untuk menyuarakan perubahan. Generasi yang tumbuh bersama dengan perkembangan dunia digital ini menghadapi tantangan sekaligus peluang besar dalam merawat nilai-nilai keislaman dan mengembangkan gerakan sosial yang berdampak bagi masyarakat.
Dalam konteks tersebut, ber-Muhammadiyah ala Generasi Z bukan sekadar persoalan bagaimana anak muda mengenakan identitas organisasi, menghadiri kegiatan perkaderan, atau aktif dalam forum-forum persyarikatan! Lebih dari itu, ber-Muhammadiyah merupakan upaya menghadirkan nilai-nilai Islam berkemajuan melalui tindakan nyata yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Muhammadiyah telah meletakkan fondasi gerakan yang kuat melalui dakwah, pendidikan, pelayanan sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Sementara itu, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) menjadi ruang strategis bagi mahasiswa untuk mengembangkan intelektualitas, spiritualitas, dan kepekaan sosial. Pertemuan antara warisan gerakan tersebut dan karakter Generasi Z merupakan peluang untuk melahirkan model gerakan yang lebih kreatif, progresif, dan berdampak.
Melampaui Simbol, Menghidupkan Nilai
Salah satu tantangan gerakan anak muda hari ini adalah kecenderungan menempatkan identitas pada apa yang terlihat, bukan pada nilai yang diperjuangkan. Aktivitas organisasi terkadang lebih mudah diukur melalui dokumentasi kegiatan, unggahan media sosial, atau banyaknya agenda yang terlaksana daripada melalui perubahan nyata yang dihasilkan.
Padahal, esensi ber-Muhammadiyah tidak berhenti pada simbol dan atribut. Identitas sebagai kader Muhammadiyah harus tercermin dalam integritas, kedisiplinan, keluasan wawasan, kepedulian sosial, serta keberanian memperjuangkan kebenaran.
Generasi Z perlu memahami bahwa menjadi bagian dari gerakan Muhammadiyah berarti mengambil tanggung jawab untuk meneruskan cita-cita Islam berkemajuan. Kader tidak cukup hanya hadir dalam forum, tetapi harus mampu menyumbangkan gagasan. Tidak cukup hanya menyampaikan kritik, tetapi juga menawarkan solusi. Tidak cukup hanya berbicara tentang perubahan, tetapi harus berani menjadi bagian dari perubahan itu sendiri.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan kader bukan semata-mata seberapa sering namanya disebut dalam organisasi, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan oleh lingkungan sekitarnya.
Dari Ruang Digital Menuju Aksi Sosial
Generasi Z memiliki keunggulan dalam memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana komunikasi, edukasi, dan mobilisasi gerakan. Media sosial bukan hanya ruang untuk membangun citra diri, melainkan juga dapat menjadi medium dakwah yang mencerahkan, menyebarkan pengetahuan, dan menggerakkan kepedulian sosial.
Kader IMM dapat memanfaatkan berbagai platform digital untuk menyampaikan gagasan keislaman yang inklusif, membangun literasi publik, mengampanyekan kepedulian terhadap lingkungan, serta mengangkat persoalan pendidikan dan kesejahteraan masyarakat.
Namun, gerakan digital tidak boleh berhenti pada popularitas dan jumlah interaksi. Sebuah kampanye sosial akan kehilangan makna apabila hanya ramai di ruang maya, tetapi tidak menghasilkan perubahan di dunia nyata.
Di sinilah pentingnya menghubungkan aktivitas digital dengan kerja-kerja sosial. Ketika kader berbicara tentang kemiskinan, mereka perlu memahami persoalan masyarakat secara langsung. Ketika menyuarakan isu lingkungan, mereka perlu mengambil bagian dalam upaya pelestarian. Ketika mengampanyekan pendidikan, mereka perlu terlibat dalam kegiatan pencerdasan masyarakat. Teknologi seharusnya memperluas jangkauan pengabdian, bukan menggantikan kehadiran manusia di tengah persoalan sosial.
Bermuhammadiyah ala Gen Z, dengan demikian, adalah kemampuan mengintegrasikan kecakapan digital dengan kepekaan kemanusiaan. Modern dalam metode, kokoh dalam nilai, dan nyata dalam pengabdian.
Kaderisasi yang Menjawab Tantangan Zaman
Dalam gerakan IMM, kaderisasi merupakan jantung organisasi. Kaderisasi tidak hanya bertujuan melahirkan anggota yang memahami sejarah dan ideologi gerakan, tetapi juga membentuk pribadi yang memiliki kesadaran intelektual, kedalaman spiritual, dan tanggung jawab sosial. Tantangan Generasi Z menuntut pendekatan kaderisasi yang mampu menjembatani nilai-nilai dasar gerakan dengan realitas kehidupan mahasiswa masa kini.
Kaderisasi perlu menjadi ruang yang membebaskan pikiran, menguatkan karakter, dan menumbuhkan keberanian untuk berproses. Forum perkaderan tidak semestinya hanya menjadi tempat penyampaian materi secara satu arah, tetapi juga ruang dialog, pertukaran gagasan, pengembangan kreativitas, serta latihan menyelesaikan persoalan nyata.
Kader perlu didorong untuk membaca, berdiskusi, menulis, melakukan penelitian, mengembangkan inovasi, dan membangun gerakan sosial yang berkelanjutan. Kemampuan berpikir kritis harus berjalan beriringan dengan etika, sementara kecakapan teknologi harus disertai tanggung jawab moral.
Dalam menghadapi perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), misalnya, kader IMM tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka perlu memahami manfaat, keterbatasan, dan konsekuensi etisnya. AI dapat membantu proses belajar, penelitian, dan pengembangan gagasan, tetapi kejujuran akademik, daya kritis, dan tanggung jawab manusia tetap menjadi prinsip yang tidak boleh diabaikan.
Kaderisasi yang relevan bukan berarti meninggalkan tradisi intelektual dan nilai ideologis IMM. Sebaliknya, kaderisasi harus memastikan bahwa nilai-nilai tersebut mampu hidup dan bekerja di tengah perubahan zaman.
Trilogi IMM sebagai Kompas Gerakan
Dalam menjalankan peran sebagai kader, Generasi Z perlu menjadikan trilogi IMM (keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan) sebagai kompas dalam menentukan arah gerakan.
Pertama, keagamaan sebagai fondasi moral. Kader harus membangun hubungan yang kuat dengan nilai-nilai Islam, menjadikan agama sebagai sumber etika, kejujuran, keadilan, dan kasih sayang. Keberagamaan tidak berhenti pada ritual, tetapi juga tercermin dalam cara memperlakukan sesama dan memperjuangkan kemanusiaan.
Kedua, kemahasiswaan sebagai ruang intelektual. Mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan pengetahuan, menjaga tradisi akademik, menguji gagasan secara kritis, dan menghadirkan solusi berbasis ilmu. Kader IMM harus mampu menjadi pembelajar yang tekun sekaligus pemikir yang terbuka terhadap perkembangan zaman.
Ketiga, kemasyarakatan sebagai wujud pengabdian. Ilmu dan nilai yang dimiliki kader harus memberikan manfaat bagi masyarakat. Gerakan mahasiswa perlu hadir dalam persoalan pendidikan, lingkungan, ekonomi kerakyatan, kesehatan, dan berbagai persoalan sosial lainnya sesuai dengan kapasitas serta kebutuhan masyarakat.
Ketiga dimensi tersebut tidak dapat dipisahkan. Spiritualitas tanpa intelektualitas berisiko kehilangan ketajaman dalam membaca persoalan. Intelektualitas tanpa kepedulian sosial dapat menjauhkan ilmu dari kebutuhan masyarakat. Sementara itu, aktivitas sosial tanpa fondasi nilai dan pengetahuan berisiko kehilangan arah.
Karena itu, kader IMM harus mampu menyatukan ketiganya dalam satu gerakan yang utuh: beriman dalam keyakinan, berilmu dalam pemikiran, dan beramal dalam tindakan.
Menjadi Kader yang Kritis, Kreatif, dan Berintegritas
Generasi Z sering digambarkan sebagai generasi yang berani mempertanyakan keadaan, cepat beradaptasi, dan tidak ragu menyampaikan pendapat. Karakter ini merupakan modal penting bagi gerakan mahasiswa, selama diarahkan dengan kedewasaan berpikir dan tanggung jawab moral.
Kritik harus dibangun di atas pengetahuan, bukan sekadar emosi. Perbedaan pendapat harus dikelola melalui dialog, bukan permusuhan. Keberanian bersuara harus disertai kesediaan mendengarkan, sedangkan kreativitas harus diarahkan untuk menghasilkan karya yang bermanfaat.
Kader IMM juga perlu membangun budaya literasi dan produktivitas. Menulis opini, melakukan riset sederhana, mengembangkan komunitas belajar, menginisiasi program pemberdayaan, hingga memanfaatkan teknologi untuk menyelesaikan persoalan lokal merupakan bentuk konkret dari gerakan intelektual yang dapat dikembangkan mahasiswa.
Kader yang progresif bukan berarti kader yang selalu menolak tradisi. Ia adalah kader yang mampu membedakan nilai yang harus dipertahankan, metode yang perlu diperbarui, dan persoalan yang membutuhkan terobosan baru.
Dalam semangat tersebut, Generasi Z tidak seharusnya hanya menjadi penonton perubahan. Mereka harus mengambil peran sebagai pelaku yang mampu membaca keadaan, merumuskan gagasan, dan menggerakkan masyarakat menuju kondisi yang lebih baik.
Menjaga Api Perjuangan, Menyalakan Masa Depan
Ber-Muhammadiyah ala Gen Z pada akhirnya merupakan ikhtiar untuk mempertemukan semangat pembaruan dengan karakter generasi masa kini. Gerakan ini tidak menuntut anak muda untuk meninggalkan identitas zamannya, tetapi mengajak mereka menggunakan seluruh potensi yang dimiliki untuk memperkuat dakwah dan pengabdian.
Generasi Z dapat memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan empati, mengembangkan kreativitas tanpa meninggalkan integritas, serta memperjuangkan perubahan tanpa melepaskan nilai-nilai keislaman.
Bagi IMM, tantangan terbesarnya bukan sekadar bagaimana menarik lebih banyak anak muda untuk bergabung, melainkan bagaimana memastikan setiap kader memiliki ruang untuk tumbuh, berpikir, berkarya, dan memberi manfaat. Organisasi harus menjadi tempat lahirnya manusia-manusia yang berani bermimpi, tekun belajar, serta bersedia memikul tanggung jawab sosial.
Muhammadiyah memiliki sejarah panjang dalam menghadirkan pembaruan bagi umat dan bangsa. Tugas generasi hari ini adalah melanjutkan semangat tersebut melalui pendekatan yang sesuai dengan tantangan zamannya, tanpa kehilangan arah ideologis dan komitmen terhadap kemanusiaan.
Sebab, ber-Muhammadiyah bukan sekadar tentang siapa kita, melainkan tentang apa yang kita perjuangkan dan manfaat apa yang kita tinggalkan. Pada akhirnya, Gen Z tidak membutuhkan gerakan yang hanya terlihat ramai, tetapi gerakan yang benar-benar hidup. Bukan sekadar organisasi yang aktif dalam dokumentasi, melainkan gerakan yang hadir dalam penyelesaian persoalan. Bukan hanya kader yang pandai berbicara tentang masa depan, melainkan kader yang mulai membangunnya hari ini.
Dari masjid menuju ruang digital, dari ruang diskusi menuju pengabdian, dan dari gagasan menuju perubahan di sanalah semangat ber-Muhammadiyah ala Generasi Z menemukan maknanya.
By: Evan Dwi Okta (Ketua Bidang Kaderisasi PC IMM Buya Safi’i Ma’arif)







