Kronologi Lengkap Bullying Santri Berakibat Penganiayaan dalam Pondok Pesantren Modern di Desa Kace Kabupaten Bangka

by -19 Views
Kondisi korban terpasang infus saat dirawat di RS Kalbu Intan Medika

Bangkatimes.com|Bangka – Telah terjadi bullying oleh senior kepada santri berinisial A (16) yang menjadi korban penganiayaan di sebuah pondok pesantren modern berinisial DA di Desa Kace Kecamatan Mendo Barat Kabupaten Bangka, Sabtu (11/4/26).

Menurut pengakuan korban, malam itu seluruh santri kelas 1 SMA dikumpulkan oleh kakak kelas. Santri yang dianggap melakukan pelanggaran kemudian dipisahkan, termasuk dirinya yang saat itu dalam kondisi sakit dan memberikan keterangan telah izin atas pelanggarannya. Tetapi seniornya malah menganggap bahwa pengakuan korban hanya alasan saja. Korban mengaku dibawa ke lokasi gelap dengan lampu dimatikan oleh dua seniornya, kemudian terjadi peristiwa bullying yang mengakibatkan luka serius.

“Saya dibilang pura-pura sakit hari itu, padahal sudah izin. Jadi itu termasuk pelanggaran kata mereka. Saya dijambak, dibenturkan ke dinding, tangan dipegang, serta dada dipukul pakai rantai. Saya juga ditonjok di perut dan dada sampai sesak dan muntah,” ungkapnya kepada wartawan.

Korban mengaku tidak berani melawan karena jumlah seniornya yang lebih banyak. Setelah kejadian tersebut, korban dibawa kembali ke kamar oleh teman-temannya. Lebih anehnya, tepat di keesokan harinya, korban menceritakan hal tersebut kepada seorang ustaz yang sedang melakukan pemantauan, alih-alih mendapatkan penanganan medis, korban malah dicukur botak oleh oknum ustaz tersebut.

“Saya melapor berharap dibawa berobat, tapi saya malah dicukur botak karena dianggap melanggar aturan, karena minggu kemarin ada acara keluarga jadi saya izin,” katanya.

Barulah saat ustaz lain melihat kondisi korban yang memperihatinkan. Korban kemudian dibawa ke klinik yang selanjutnya dirujuk ke RS Kalbu Intan Medika. Hingga saat ini, korban masih merasakan nyeri dan sesak di bagian dada akibat bullying yang dialaminya. Korban juga mengaku tidak ingin kembali ke pesantren dan ingin pindah ke sekolah umum karena takut.

Pihak pondok pesantren memberikan klarifikasi terkait dugaan bullying yang mengakibatkan penganiayaan tersebut. Perwakilan pesantren menyebut bahwa bullying yang terjadi akan menjadi perhatian serius dan menjadi bahan evaluasi internal. Pihak pesantren juga menegaskan tidak membenarkan segala bentuk kekerasan di lingkungan pendidikan.

Staf pimpinan pesantren, Imam Subani mengatakan bahwa pihaknya akan memperketat pengawasan dan pembinaan santri agar kejadian serupa tidak terulang. Sementara itu, humas pesantren, Supri menyebutkan bahwa dugaan bullying tersebut terjadi saat terdapat celah pengawasan karena sebagian pengurus sedang memiliki kegiatan lain. Pihak pesantren juga menyatakan siap bekerja sama dengan berbagai pihak dalam penyelesaian kasus secara transparan di tengah langkah keluarga korban yang telah melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian.

By: B.. (Sumber: Sosmed anggota DPRD Babel)

banner 728x90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *